Jumat, 28 Maret 2008

SIAPA YANG MAIN API DI SOWAMPA?

SIAPA YANG MAIN API DI SOWAMPA?

Majalah Tempo Edisi 19/14, 7 Jul 1984


Deskripsi
PNG MENGIRIM NOTA PROTES. PASUKAN RI DITUDUH MELINTASI
PERBATASAN DAN MEMBAKAR DESA SOWAMPA. ITU ULAH OPM. (NAS)



TEKA-teki tentang sejumlah pasukan Indonesia yang dituding telah
melintasi perbatasan dan membakar perkampungan penduduk di
Sowampa - 1,4 km masuk wilayah Papua Nugini mungkin segera
terjawab. Rabu minggu ini, sebuah tim gabungan Indonesia dan PNG
- antara lain dubes RI di Port Moresby Iman Soepomo dan pejabat
tlnggi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) PNG mengecek langsung
tempat insiden itu. Mereka akan segera melaporkan kepada
pemerintah, masing-masing mengenai kejadian yang lagi-lagi
sempat membuat tegang hubungan kedua negara.

Menurut berita yang tersiar minggu lalu, mengutip penjabat menlu
PNG Tony Bais, sekitar 50 orang bersenjata 26-27 Juni lalu telah
mendatangi Desa Sowampa. Mereka konon membakar 10 pondok dan
menebang pohon buah-buahan milik penduduk. Seperti orang yang
lagi piknik, si penyerbu yang datang malam hari itu mengukirkan
nama-nama "Indonesia" pada pohon. Untuk memberikan kesan
pelakunya pasukan Indonesia, mereka meninggalkan ransel, sisa
makanan, dan seragam aparat keamanan yang bertugas di
perbatasan. Kesan Indonesia, katanya, juga ditonjolkan dengan
beberapa bungkus rokok keretek yang dicecerkan di tempat itu
cuma 3,2 km dari Kecamatan Waris, ujung timur Irian Jaya.

Menyusul kejadian itu, Kamis minggu lalu Duta Besar Iman Soepomo
telah dipanggil ke Kemlu PNG. Ia telah menerima nota protes
diplomatik dari PNG yang disampaikan oleh sekretaris kemlu
Paulias Matane. Menurut Menlu Mochtar Kusumaatmadja, dalam
pertemuan pers, Jumat pekan lalu, Indonesia sedang mempelajari
secara saksama nota protes itu. "Kami telah menerima nota protes
yang kami anggap cukup serius," kata Mochtar. "Dan akan
mempelajarinya dahulu sebelum memberikan jawaban."

Dengan nada optimistis dan tersenyum lebar, Mochtar yakin bahwa
hubungan kedua negara tldak akan terguncang oleh peristiwa yang
sedang diteliti kebenarannya itu. Hubungan kedua negara selama
ini ia anggap baik, karena kedua negara bisa menahan diri. "Ada
kecurigaan, pelanggaran perbatasan itu dilakukan oleh pihak
ketiga yang ingin menimbulkan ketegangan dalam hubungan kedua
negara," ujar Mochtar.

Ada beberapa hal yang pantas disangsikan dalam data yang
diungkapkan pada nota protes Pemerintah PNG, yang disiarkan
kantor berita Reuter itu.

Seperti diungkapkan wakil gubernur Ir-Ja Sugiyono kepada TEMPO,
pelanggaran tapal batas seperti yang diberitakan itu tidak
mungkin dilakukan oleh tentara Indonesia. Pos terdekat dengan
Desa Sowampa adalah Kecamatan Waris, hanya dijaga 12 petugas
keamanan.

Bantahan lebih tegas keluar dari Pangab Jenderal L.B. Moerdani
di bandar udara Sentani, Jayapura, Sabtu lalu. "Saya membantah
keras pemberitaan pers asing yang menyatakan ada 50 tentara
Indonesia mcnyeberang perbatasan, dan melakukan pembakaran
sebuah kampung di wilayah PNG," katanya. Jenderal Benny, yang
baru saja mengunjungi beberapa pos terdepan di perbatasan Ir-Ja
dengan PNG, menambahkan, "Saya berani menyatakan, tidak ada satu
pun tentara Indonesia yang menyeberang ke PNG." Ia menduga,
pelaku pembakaran kampung itu adalah orang biasa yang memakai
baju tentara Indonesia. "Sebab," katanya sambil menunjuk
seragamnya, "baju seperti ini bisa dibikin di mana-mana."

Selama di Ir-Ja, Pangab dan rombongan juga mengunjungi Koramil
Nimburan Genyem, 125 km sebelah barat Jayapura. Ia sempat
bertemu tiga penduduk yang pernah ikut masuk hutan sebagai
Organisasi Papua Mcrdeka (OPM). Alkisah, mereka kabarnya sernpat
mengungsi ke wilayah PNG Juni 1983. Menurut Simon Waipon, salah
seorang bekas anggota mereka, bulan Desember lalu ia bersama 11
orang temannya kembali ke Ir-Ja. Mereka merasa tidak tenteram
bersembunyi di tempat pengungsian. Rombongan Pangab kemudian
mengunjungi Koramil dan Polsek Arso, beberapa kilometer dari
perbatasan di sebelah selatan Jayapura.

Agaknya, baik perlakuan terhadap pengungsi maupun bekas anggota
OPM yang sadar, selama ini cukup lumayan. Sekitar 2.000 dari
7.000 pengungsi yang memasuki wilayah PNG, yang kembali ke
Ir-Ja, menurut Pangab, sudah dikembalikan ke kampung asalnya.
"Tidak ada rencana untuk menghukum mereka," katanya. Kecuali
yang punya urusan dengan tindak kriminal.

Agak berbeda halnya dengan anggota ABRI yang menyeberang dan
bergabung dengan OPM. "Anggota ABRI kalau meninggalkan kesatuan
dalam dua kali 24 jam, dan tidak melaporkan diri, dianggap
desersi dan akan dihukum," katanya. Sekitar 70 anggota ABRI,
menurut sumber TEMPO, bulan Februari lalu telah meninggalkan
kesatuan dan kini berada di antara pengungsi di wilayah PNG atau
gerombolan OPM.

Perlakuan sedikit berbeda, agaknya, bagi 10 orang pegawai negeri
golongan II yang kini menyeberang dan bergabung dengan para
pengungsi. Mereka berasal dari unsur pemerintah daerah Ir-Ja.
Gubernur Ir-Ja Issac Hindom, selesai menemui Presiden Soeharto
di Cendana Selasa lalu, akan menerima mereka dengan tangan
terbuka. "Bagaimanapun, mereka masih anak-anak kita," katanya.

Agaknya, usaha OPM memancing popularitas belakangan memang cukup
meningkat, terutama setelah proses pemulangan pengungsi semakin
lancar. Wakil gubernur Ir-Ja Sugiyono, yang baru saja
mengunjungi pos-pos di sepanjang garis perbatasan selama dua
pekan akhir Juni lalu, paling tidak berkesimpulan demikian.
"Memang ada laporan meningkatnya kegiatan oknum OPM di sepanjang
perbatasan," katanya kepada Muchlis Dj. Tolomundu dari TEMPO,
Selasa lalu. Baik di wilayah Indonesia maupun PNG, oknum OPM
itu, menurut Sugiyono, mulai lagi menghasut dan mengobarkan
semangat "Papua Merdeka" dan kebencian kepada Indonesia. "Ini
dilakukan OPM untuk menutupi popularitas yang lagi turun akibat
pulangnya warga Indonesia yang dulu pernah mereka giring ke
seberang," katanya. "Itu sebabnya, saya berani memastikan, yang
membakar dan merusakkan kampung di wilayah PNG itu adalah oknum
dan antek OPM," tambah Sugiyono. Maksudnya? "Untuk mengacaukan
hubungan baik kedua negara," katanya, "jika memang pembakaran
dan perusakan kampung itu betul ada."

Kelihatannya, tudingan semakin terarah kepada OPM sebagai pelaku
perusakan dan pembakaran kampung Sowampa itu. Pangdam XVII
Cenderawasih, ketika dihubungi TEMPO Selasa malam, sependapat
dengan Sugiyono. "Anggota saya di perbatasan tidak sebodoh itu,"
kata Brigadir Jenderal R.K. Sembiring Meliala kepada TEMPO,
"sampai meninggalkan jejak segala, mencoretkan namanya di
pohon-pohon." Ia telah mengecek ke semua pos di perbatasan.
"Saya percaya ini ulah pihak ketiga," katanya. "Bisa saja mereka
menggunakan kesempatan ketika tentara kita sedang patroli di
Waris. Lantas OPM itu bikin acara di Sowampa."

Tidak ada komentar: