Senin, 31 Maret 2008

"pejuang" Seroja:bagian Suram Sejarah Timtim

Para cacat veteran Operasi Seroja di Timor Timur (Timtim) dan warakawuri merupakan saksi sejarah bagaimana pasukan ABRI (kini TNI) berjuang mempertaruhkan nyawa di Bumi Loro Sae. Ketika sebagian besar warga Timtim memilih merdeka lewat jajak pendapat, hati mereka pun pedih. Mereka berharap keberadaan mereka diperhatikan dan jangan lagi persoalan besar kebangsaan diputuskan pemerintah dengan gegabah.



Seroja adalah sejenis tumbuhan air berbunga putih dan merah jambu nan indah. Tapi bagi ribuan tentara, terutama mereka yang cacat semasa operasi dengan nama sandi Seroja di Timtim (1976 - 1984), nama seroja seolah menjadi sebuah mimpi buruk. Apalagi setelah hasil jajak pendapat menunjukkan, sebagian besar rakyat Timtim menghendaki kemerdekaan daripada otonomi luas, maka lengkaplah sudah luka hati "pejuang seroja".

"Kalau Anda datang ke sini tanggal 4 September 1999, usai pengumuman hasil jajak pendapat, situasinya sangat muram. Tiba-tiba seperti ada komando mengibarkan bendera merah putih setengah tiang. Semua lampu padam. Orang-orang keluar rumah dan berteriak tak karuan," papar Henu Sunarko, putra seorang cacat veteran Seroja dan Ketua Forum Komunikasi Putra-Putri Pejuang Operasi Seroja Timor Timur (Fokppost), yang belakangan rajin berdemo menentang hasil jajak pendapat.

Merah putih setengah tiang itu kini masih menghias rumah-rumah di Kompleks Wisma Seroja, di kawasan Pondok Ungu, Bekasi Utara, tempat mereka menghabiskan sisa hidupnya. Di kompleks yang bersih ini, selain bermukim penyandang cacat Seroja yang berjumlah 177 orang, juga tinggal 125 orang warakawuri (janda prajurit yang meninggal dalam tugas). Di luar Bekasi, para cacat veteran Seroja juga ada di Surabaya, Malang, Solo, dan Bandung, meskipun jumlahnya tak sebanyak di Kompleks Wisma Seroja Bekasi.



Loper koran dan tukang parkir
Henu bersama Fokppost-nya agaknya kecewa atas sikap pemerintah yang dinilai terlalu gegabah dan tergesa-gesa memutuskan persoalan kebangsaan seperti Timtim. Di lain sisi alternatif pilihan bagi masa depan Timtim tak pernah disosialisasikan secara luas, termasuk kepada keluarga besar pasukan yang terlibat dalam Operasi Seroja. Sehingga hasil jajak pendapat itu akhirnya disikapi dengan reaksional.
Kendati tidak ikut berjuang secara langsung di Timtim, Henu rupanya merasakan benar pahit getirnya jadi putra tentara. Ayahnya, Pelda (Mar) Purn. Priyanto, cacat saat bertugas di Bumi Loro Sae. Sepulang dari sana, ayahnya, dengan dibantu ibunya, mati-matian menutup biaya hidup sehari-hari bagi putra-putranya. Ayahnya mencari tambahan penghasilan sebagai satpam. Sementara ibunya berjualan di pasar. "Saya sendiri pernah jadi tukang parkir di Mayestik dan loper koran," papar Henu lirih.

Untung, setapak demi setapak kerja keras pasangan cacat veteran ini membuahkan hasil. Ayah Henu sudah dipercaya jadi Wakil Kepala Pasar Harapan Jaya Baru. Sementara ia dan kakaknya bisa meraih gelar kesarjanaan.

Kegigihan tampaknya menonjol dalam diri cacat veteran Operasi Seroja dan keluarganya. Mereka berprinsip harus tetap eksis meski harus kerja serabutan, yang penting halal. Adalah Kopka I Made Narsin yang juga punya pandangan seperti itu. Made dikirim ke Timtim tahun 1977 - 1979 dengan pangkat prajurit satu. Sial, dalam sebuah patroli di luar Kota Liquisa tentara pembawa bren ini terkena ranjau yang ditanam di sebuah jalan setapak. Ia terluka, tapi lima orang teman yang ada di depannya selamat melewati ranjau maut itu. "Betis kiri saya langsung putus," kenangnya.

Baku tembak pun segera terjadi antara rekan-rekannya dengan Fretilin. Karena itu Made baru bisa ditolong 15 menit setelah pertempuran reda. Perawatan seadanya lantas diberikan, kaki diikat untuk menahan aliran darah yang banyak keluar. Ia segera dievakuasi ke Liquisa. Sesudah menginap semalam, esok harinya ia diterbangkan ke Dili menggunakan helikopter.

Setiba di ibukota propinsi ini betis kiri Made dipotong lagi tepat di bawah lutut. Untuk menahan rasa sakit ia disuntik tiga jam sekali. Tiga hari kemudian Made yang berasal dari Batalion 742 Lombok ini diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan ulang di RSPAD Gatot Subroto. Di sini kondisi Made diobservasi dan dioperasi kembali.

Sepulang dari RSPAD Gatot Subroto ia harus memakai kaki palsu. Ternyata ini butuh penyesuaian yang tak mudah. Selama setahun ia menghabiskan waktu hanya untuk belajar jalan. Soalnya, kalau tidak pas, kaki bisa bisulan atau lecet. Karier kemiliterannya pun berbalik 180 derajat. Made yang berasal dari kompi artileri berat harus rela pindah ke bagian administrasi. "Sebagaimana hidup manusia, Tuhan sudah ngatur kok. Yang penting kita nggak boleh berpikir yang bukan-bukan," katanya dengan logat Bali yang masih kental.



Upaya untuk bertahan

Dari keterampilan yang ia dapatkan di Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat di Bintaro dan Balai Latihan Kerja di Cijantung, ia kini menerima servis mesin cuci, lemari es, dan AC di rumahnya yang dia tempati sejak 1985. Awalnya, ia harus mencari sendiri pelanggan melalui kenalan-kenalannya. Tapi lama-kelamaan pengguna jasanya mulai datang sendiri lantaran tahu betul kualitas kemampuannya. Bahkan dalam soal garansi, pria bertubuh tinggi besar itu berani memberi garansi sampai dua tahun. "Orang kadang bingung, kok jaminannya lama. Lha saya 'kan yang tahu kondisi mesinnya?" katanya.

Puncak kejayaan usahanya ia alami tahun 1987-1988. Waktu itu dalam sebulan ia bisa mengantungi keuntungan sampai Rp 2,5 juta. Made pun sedikit demi sedikit mulai membeli alat, sehingga ia tak perlu lagi pinjam pada orang lain. "Waktu itu, total anggarannya kira-kira Rp 15 juta," paparnya.

Kini di rumahnya di kompleks Wisma Seroja, tampak berjajar beberapa lemari es yang harus ia perbaiki. Cuma sebelumnya Made perlu berkomunikasi dengan pelanggannya soal harga suku cadang yang semakin mahal. "Kalau biaya perbaikan sudah disepakati saya baru mulai mengerjakan," katanya.

Seperti halnya Made, Kopka Purnomo juga menjalani usaha sampingan untuk menambah keuangan rumah tangganya. Yang dipilih cacat veteran tuna netra ini adalah memijat dan beternak burung perkutut. Sementara istrinya merakit kepala korek api gas.

Orang yang memanfaatkan jasanya tak tentu banyaknya. Mereka umumnya warga Kompleks Wisma Seroja. Kalaupun ada orang luar, tentu sebatas yang mengenalnya. Ia pun bisa dipanggil, tapi sejauh yang bisa dijangkau becak. "Memijat ini cuma hiburan," katanya. Dari menjual jasa ini penghasilan tambahannya tak tentu besarnya. Imbalan jasa yang dia terima untuk sekali memijat juga tak tentu. Sedangkan dari perkututnya ia menjual sepasang anakan berkisar Rp 150.000 - Rp 200.000,-.

Ny. Krantung Malonda Ellen (40), warakawuri Serma Yulius Krantung yang dianggap hilang dan dinyatakan gugur pada 1977, juga berwiraswasta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejak pindah ke Wisma Seroja, Ny. Krantung berjualan sepatu dan celana jins dari Bandung atas ajakan saudaranya. Barang dagangan itu dia titipkan di Toko Kelompok Usaha Mandiri yang berada di dekat pintu masuk kompleks. Sebelumnya ia pernah berusaha di bidang rangkaian bunga. Berkat keuletannya ia bisa menyekolahkan satu-satunya putri tercinta di Program Diploma 3.

Bagi para cacat veteran dan warakawuri yang tidak memiliki usaha, ada kegiatan yang bisa memberi tambahan penghasilan, meskipun tidak banyak. Atas itikad baik dari salah satu produsen korek api gas, mereka diikutkan dalam kegiatan perakitan kepala korek api gas. Pada hari-hari tertentu ribuan komponen kepala korek api gas dikirim ke rumah-rumah mereka melalui koordinatornya. Jatah diberikan atas dasar kemampuan pengerjaan per anggota keluarga.

Ny. Anita, janda dari Serka (Marinir) Memet Mihardja yang gugur di Timtim tahun 1977, hanyalah satu contoh. Usaha sambilan ini mulai ditekuninya sejak 1984. Dalam sehari ia bisa merakit sekitar 2.500 korek dengan imbalan Rp 2,9/kepala korek gas. Ny. Anita bisa mengantungi Rp 40.000 - Rp 50.000,- per bulan.



Antara pedih dan bangga
Meski para cacat veteran Operasi Seroja dan warakawurinya mampu bertahan dalam menjalani hidup, mereka rupanya tak mampu menyembunyikan kepedihan. Tak terkecuali Purnomo. Ia mungkin tidak harus melakukan pekerjaannya yang sekarang bila tidak bertugas ke Timtim. Ketika berangkat ke sana tahun 1983, Purnomo masih bujangan. "Ketika itu saya tak punya kekhawatiran apa-apa, sudah aman 'kan," katanya. Tapi nasib berkata lain, kedua matanya buta terkena pecahan granat dalam sebuah patroli rutin di sekitar Los Palos. Pada peristiwa itu dua orang meninggal termasuk komandan peletonnya. Ia sendiri terluka parah, giginya pecah, pipi sobek, tangan dan kakinya lumpuh, serta matanya tak bisa melihat sampai sekarang.

Luka dan kebutaan sebenarnya tidak membuat Purnomo yang asli Purworejo itu menyesal. Yang ia rasakan justru putus asa, bahkan pernah berniat bunuh diri sampai dua kali semasa dalam perawatan, namun gagal karena ketatnya penjagaan. "Saya hampir menenggak delapan butir pil tidur dan menyilet nadi, tapi ketahuan. Padahal pintu sudah saya kunci. Seluruh ruangan bagian dalam sudah saya raba semua, saya sudah siap ambil silet di bawah kasur. Ternyata siletnya langsung diamankan," katanya kalem.

Baginya yang berat adalah masa-masa awal kecacatannya. "Tersinggung sedikit saja marahnya bukan main," katanya. Bahkan sering lupa ingatan akibat luka kepala yang dialaminya. Ia sering jalan sendiri tak tentu arah dan menabrak pintu pagar rumah sendiri. Selagi dirawat, niatnya cuma satu yaitu melarikan diri untuk bunuh diri. Suatu kali ketika penjaga lengah ia nekad keluar melompat jendela. Lantaran tak melihat, ia cuma mengandalkan ingatan. Ia merasa jalan yang ia lewati benar, tapi rupanya jalan itu sedang digali dan ia terperosok ke dalamnya.

Kepercayaan diri dan semangat hidupnya mulai tumbuh tatkala Purnomo mulai berkumpul dengan sesama cacat veteran Seroja yang cacat terutama yang tidak melihat. Rasa putus asanya berangsur-angsur hilang.

Kopka Elan Sutarna yang mengalami cacat pada mata kanannya juga sempat kehilangan kepercayaan diri. Boro-boro mencari calon pasangan hidup, bertemu orang saja sudah minder. "Waktu pulang dari rumah sakit, saya sudah kayak orang terbuang saja. Seperti ayam tidak punya induk. Jangankan main keluar, nongol di pintu saja rasanya sudah kayak diperhatikan banyak orang. Ya, akhirnya di kamar saja," aku Sekretaris II Korps Cacat Veteran RI cabang khusus Seroja ini. "Kalau bukan orang tua yang mencarikan calon istri, saya nggak bisa kimpoi," tambahnya.

Sementara janda prajurit yang gugur dalam Operasi Seroja pun menderita tekanan batin yang tak kalah pedihnya. Ny. Krantung, misalnya, ketika menceriterakan kisah hidup suaminya sebagai prajurit TNI, matanya sering berkaca-kaca. Kata-katanya lirih dan terputus-putus. Bisa dimengerti karena sampai kini jenazah suaminya tak pernah ditemukan. "Menurut mantan komandan suami saya di Baucau, ada monumen yang memuat daftar 39 orang yang gugur termasuk nama suami saya," katanya memelas.

Karena ketidakjelasan nama korban, berita meninggalnya suaminya baru dia ketahui setelah 3 bulan. "Terus terang saya sangat sedih. Apalagi saya harus membesarkan putri semata wayang saya yang baru berumur dua tahun waktu itu," ungkapnya. Kini putrinya telah tumbuh dewasa. Bahkan sewaktu Fokppost mengadakan aksi demo menentang hasil jajak pendapat, putrinya selalu berada di barisan depan.

Dari sekian panjang rangkaian kepedihan yang dialami para cacat veteran Operasi Seroja dan warakawurinya, ternyata masih menyisakan sepenggal kebanggaan. Ny. Anita mungkin masih bisa dibilang menyimpan kebanggaan itu. Atas jasa-jasa suami ibu tiga orang anak dan nenek seorang cucu ini, nama Memet Mihardja diabadikan sebagai nama jalan di Ksatrian Marinir Cilandak. Kalau saja nama-nama pejuang Seroja yang telah gugur diabadikan seperti itu, barangkali kepedihan yang dirasakan keluarga yang ditinggalkan akan (sedikit) terobati. (G. Sujayanto/I Gede Agung Yudana)


PS :
"BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARAI JASA PARA PAHLAWANNYA" (IR.SOEKARNO)


source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=274970&page=3

1 komentar:

kapten_log mengatakan...

bangsa ini perlu diingatkan pada operasi seroja, dan kepada veteran seroja.nampaknya bangsa ini sudah lupa bahwa para veteran tersebut pernah berjuang untuk negara. ada yang pulang hanya nama...ada yang pulang tanpa kaki...istilah kerennya "all gave some, some gave all."
walau timor-timur bukan lagi bagian indonesia, tapi orang2 itu (veteran seroja)sebagian masih hidup. kita perlu menghormati mereka yang telah membela tanah airnya. tanah air kita juga.