Kamis, 10 April 2008

Kisah Pasukan Perdamaian Garuda

Kontingen Garuda Pernah Dijuluki "Crazy"
This is buffer zone. You, Israel, no look-look. Go!" Kalimat bahasa Inggris ala Tarzan ini diucapkan oleh seorang prajurit Kontingen Garuda (Konga) VIII yang sedang bertugas di Timur Tengah.

Kalimat itu ditujukan kepada prajurit-prajurit Israel yang mencoba melewati zona penyangga (buffer zone) daerah Israel-Mesir. Dengan menggunakan bahasa Inggris seperti itu, tentara Israel yang mencoba melihat-lihat daerah penyangga langsung kabur. Cerita itu diungkapkan oleh Letkol Sutopo (Akabri 1961) yang bersama Batalion 312 Kala-Hitam/Berdiri Sendiri (BS) bertugas sebagai tentara PBB di Suez pada 1974/1975.

Menurut dia, dengan bahasa Inggris ala Tarzan itu, Kontingen Indonesia mendapat pujian dan penghargaan dari pucuk tertinggi Pasukan PBB di Timur Tengah. Itu baru masalah bahasa, belum lagi masalah ketahanan fisik.

Tentara PBB dari negara lain seperti Kanada, Senegal, Polandia dan sebagainya, tidak habis-habisnya memuji tentara Indonesia karena bisa bertahan berbulan-bulan tinggal di tengah-tengah gurun pasir. Tentara-tentara negara lain tersebut biasanya tidak bisa berlama-lama di gurun, karena terjangkit penyakit NKO yakni Naik Ke Otak. Maksudnya, baru tiga bulan bertugas, sudah mengeluh, minta cutilah, pusinglah atau ada yang minta ditemani keluarga.

Tentara Indonesia tidak demikian. Tiga bulan berada di tengah gurun tidak pernah mengeluh, malah menikmati tugas yang diembankan, sampai-sampai tentara lain mengecap tentara Indonesia dengan sebutan strong army. Belum selesai sampai di situ, tentara Indonesia tiba-tiba mendapat gelar baru yakni very strong karena bertahan sampai enam bulan tanpa mengeluh penyakit NKO.

Sutopo menceritakan, setelah 9 bulan berada di sana, tentara lain menggeleng-geleng kepala melihat kehebatan Indonesia, sampai-sampai mereka mengatakan pasukan Indonesia termasuk pasukan crazy (gila). "Anda benar-benar gila, masa bertahan 9 bulan tidak bertemu perempuan," kata tentara PBB dari negara-negara lain.

Menurut dia, tentara PBB dari Indonesia selama bertugas di Timur Tengah dianggap sebagai pasukan PBB yang paling berhasil dan menonjol dibandingkan dengan kontingen-kontingen PBB dari negara lain.

Kuncinya, karena pasukan Indonesia bisa bekerja sama dengan pasukan Israel, Mesir dan pasukan PBB lainnya. "Jika ada persoalan dengan pasukan lain atau jika ada persoalan mengenai perbatasan, sepanjang masalahnya tidak prinsipil, prajurit kita biasanya menyelesaikan sendiri masalah tersebut. Tidak cepat melapor ke atasan. Caranya, ya, dengan banyak tersenyum, bahasa tubuh atau bahasa Inggris ala Tarzan tadi," kata Sutopo.

Senjata Sapu

Cerita lucu tapi sukses dari Kontingen Garuda VIII di Mesir pada 1974/1975, masih terulang lagi oleh tentara Indonesia lainnya ketika bertugas di berbagai negara, seperti Konga I di Gaza (1957), Konga II-III di Kongo (1961-1964), Konga IV-V di Vietnam (1973-1974), Konga VI di Sinai (1974), Konga VII di Vietnam (1974), Konga VII di Sinai (1975-1978), Konga IX di Irak (1990), Konga XI di Kuwait (1991) Konga XII-A dan B di Kamboja (1992) dan beberapa negara lainnya

Pasukan Garuda XII-A juga punya pengalaman sama ketika bertugas di Kamboja pada 1992. Mayor Budy WS, Wakil Komandan Kontingen Garuda XII-A kepada pers ketika itu mengatakan, pasukan yang berkekuatan 850 personel tersebut menghadapi rakyat Kamboja tidak dengan mengandalkan senjata. Cukup dengan senyum, keramahan, sabar dan menghargai mereka serta saling membantu satu sama lain.

"Kami memperbaiki jalan yang rusak, dan membuat jalan baru yang menguntungkan masyarakat sekitar. Atau memperbaiki tempat-tempat ibadah yang sudah rusak dan perlu perawatan. Jadi senjata kami cukup palu, sapu, kuas untuk mengecat dan alat-alat lainnya," kata Mayor Budy WS seperti dikutip dari Suara Merdeka.

Cerita-cerita sukses tentara Indonesia di ajang internasional tidak hanya terkenal di dunia ketiga atau negara-negara miskin. Pasukan Indonesia juga pernah diminta ditugaskan ke sejumlah negara Eropa, seperti ke Bosnia Herzegovina.

Berbeda dengan pengiriman sebelumnya, kontingen ke Eropa ini sangat terbatas, cuma 25 perwira pertama dan menengah ABRI dari ketiga angkatan. Mereka bergabung dalam Konga XIV/UNPROFOR (United Nations Protection Force).

Mabes ABRI di Cilangkap ketika itu sangat selektif memilih tim, selain karena harus bertugas di Benua Eropa, juga untuk menunjukkan kemampuan tentara Indonesia di dunia Barat. Maka dipilihlah perwira-perwira yang memiliki kemampuan nubika (nuklir, biologi dan kimia), intelijen dan kemampuan khusus lainnya. Selain itu, ke-25 kontingen itu sudah memiliki kemampuan dasar dalam bahasa Inggris. Dan hasilnya sungguh memuaskan.


Cerita Sedih

Citra TNI dalam berbagai misi Konga diakui sangat menggembirakan. Sayang prestasi dunia internasional yang sudah diraih itu tiba-tiba sirna dalam sekejap hanya karena kasus Timor Timur. Diakui, kasus Timor Timur adalah satu pelajaran berharga untuk TNI.

Banyak pihak dan lembaga swadaya masyarakat menilai kejayaan Konga di berbagai belahan dunia sepertinya mencapai titik antiklimaks ketika meletus kasus Timtim.

Ketika Timtim lepas dari Indonesia, secara bergelombang pasukan Interfet (International Force in East Timor), yang berintikan tentara Australia, mulai mendarat di Dili. Wajah-wajah mereka penuh percaya diri, karena datang dengan dukungan peralatan militer yang canggih, dan logistik melimpah. Pasukan TNI yang biasanya selalu dipercaya sebagai Pasukan Perdamaian PBB, kali ini harus menarik diri dari Timtim, karena kedatangan Pasukan Interfet di bawah payung PBB. Padahal, sejak 1957, TNI selalu menjadi langganan sebagai pasukan perdamaian di bawah PBB.

Kini di tahun 2006, PBB meminta lagi Indonesia untuk mengirim pasukannya ke Lebanon selatan. Kita berbangga, karena itu artinya TNI masih diperhitungkan. Tapi, mampukah TNI mengemban tugas tersebut, mengingat kemajuan teknologi militer di daerah konflik jauh melebihi kemampuan pasukan Indonesia?

Ini sebuah pertanyaan mendasar yang harus diperhitungkan oleh para pengambil keputusan di negara ini, jika ingin TNI tampil kembali dengan gagah perkasa di dunia internasional. [dari berbagai sumber.

satu lagi......

Kesempatan Emas bagi Prajurit TNI

ejumlah prajurit yang ikut dalam Kontingen Garuda XXIII-A ke Lebanon sama sekali tidak berpikir soal gaji yang rencananya akan diberikan PBB yakni sebesar US$ 1.027 per bulan atau pun adanya tunjangan keluarga, asuransi, peningkatan karier, atau segala penghargaan.

"Yang utama bagi saya hanya kebanggaan, ketika tahu saya terpilih. Sebagai seorang prajurit, tugas adalah kehormatan, apalagi ini misi negara. Belum tentu juga kesempatan-kesempatan seperti ini ada lagi. Tidak semua tentara dapat kesempatan emas seperti ini," ujar Sersan Dua, Basuki, dari Kesatuan Pengintaian Tempur (Taipur) Kostrad kepada Pembaruan seusai upacara penutupan pratugas Kontingen Garuda XXIII di Cilodong, Jawa Barat, Selasa (12/9).

Seusai penutupan pratugas Kontingen Garuda, Basuki, masih sempat menyambangi istrinya, Ratna Setianingsih, dan anak pertamanya, Desta Lingga Putri Prabaskara yang baru berusia tiga bulan. Tempat tinggal Basuki kebetulan berada di mess Taipur, Cilodong Cibinong Bogor, dekat dengan lokasi penampungan pasukan Kontingen Garuda.

Basuki yakin, istri dan anaknya yang dia tinggalkan di Tanah Air pasti akan diperhatikan pemerintah. Makanya tidak ada yang dia khawatirkan ketika berangkat ke Lebanon dalam misi perdamaian PBB.

"Wah saya tidak berpikir soal tunjangan ini dan itu, termasuk tunjangan khusus dari pemerintah. Dan sejauh ini memang belum disampaikan kepada kami. Kami hanya mendapat informasi soal RoE (Rule of Engagement), SOP (Standard Operational Procedure) yang ditetapkan PBB, dan kondisi di lokasi tugas di Lebanon. Memang kalau manusia secara materi pasti memikir ke sana (tunjangan). Namun, saya hanya melihat ini sebagai tugas untuk negara, saya ingin tunjukkan bahwa kita mampu," ujar Basuki.

Dia mengakui, terpilih menjadi bagian dari pasukan perdamaian PBB saja, merupakan suatu hal luar biasa.

Sebab, dia harus melewati sejumlah proses seleksi yang cukup panjang. Mulai dari tes kesehatan jiwa dan juga fisik. Proses seleksi memang sudah dilewati melalui pemilihan prestasi sesuai penilaian pimpinan. Dari sekitar 250 pasukan di Taipur, hanya 95 orang yang terpilih ikut ke Lebanon.

Hal senada diungkapkan Praka Chairul ASP. "Ini sebuah tugas yang membanggakan. Dan sebuah kehormatan bagi saya menjadi duta bangsa," kata Chairul yang baru pertama kali menjadi pasukan perdamaian PBB. Bagi Basuki dan Chairul, segala tunjangan yang ramai dibicarakan masyarakat untuk para personel Kontingen Garuda tidak pernah mereka hiraukan.

"Saya yakin para pimpinan kami sudah memikirkan itu semua bagi kami. Mereka tidak mungkin menutup mata untuk anggotanya," kata Chairul yang juga pernah bertugas di Timor Leste.


Utamakan Tugas

Seperti syair di lagu Iwan Fals, memang, isi kepala di balik topi baja semua serdadu pasti tak jauh beda. Yang ada dalam pikiran mereka saat ini hanya bertugas menjalankan perintah negara. Membawa bendera Indonesia dalam misi perdamaian PBB.

"Tugas kita sebagai prajurit menjalankan perintah, mengamankan perintah dengan sebaiknya untuk masalah tunjangan dan juga tugas ini bakal menunjang karier, itu terserah pimpinan kita. Karena merekalah yang menilai," tambah Chairul.

Hal itu juga yang ditekankan Komandan Pasukan Kontingen Garuda XXIII-A, Letkol Inf Surawahadi. Bahkan Surawahadi hingga kini tidak tahu berapa besar tunjangan yang akan diterima dari PBB. Sama seperti Basuki dan Chairul, juga pasukan lainnya.

"Sebagai tentara kami harus tahu persis yakni mengutamakan tugas. Yang lainnya itu hal belakang. Apalagi kami sebagai yang punya keluarga, punya anak, kita tidak lagi berpikir di belakang. Di basis ini adalah urusan ibu-ibu dan anak-anak kita. Pimpinan di Tanah Air pasti sangat memperhatikan keluarga kami," ujar Surawahadi.

Chairul dan Basuki yakin betul, mereka dan seluruh kawan-kawan di Kontingen Garuda XXIII-A sudah siap berangkat kapan pun juga.

"Secara teknis kita sudah disiapkan, karena memang setiap prajurit selalu dilatih untuk siap. Kalaupun ada penugasan seperti ini, tinggal menambah materi-materi sesuai aturan penugasan PBB. Jadi tidak terlalu sulit. Makanya kita tidak khawatir mau ditegaskan ke mana pun juga," papar Chairul.

Dalam persiapan ke Lebanon melalui pratugas selama 12 hari, mereka sudah dilatih bagaimana menerapkan aturan yang ditentukan PBB. Seperti pelarangan mengeluarkan tembakan dan bagaimana menghadapi kedua pihak yang bertikai. "Sebab ini misi perdamaian bukan bertempur. Kita semua harus membalikkan pikiran bahwa ini misi perdamaian, bukan perang," tambah Basuki.




Kemampuan Teknis

Kolonel Gustav Heri yang juga pernah menjadi pasukan perdamaian di Bosnia dan Kuwait mengatakan, dari kemampuan teknis pasukan TNI dibanding pasukan dari negara-negara lain tidak perlu diragukan. Selama ini pasukan TNI dalam setiap misi perdamaian selalu berhasil melaksanakan tugas dengan baik.

"TNI selalu siap. Makanya ketika diminta untuk menyiapkan satu batalion mekanis, kita hanya memoles sedikit, tidak sampai sebulan sudah siap ke Lebanon," katanya.

Gustav yakin, setiap prajurit TNI yang mendapat tugas ikut dalam misi perdamaian PBB adalah prajurit istimewa. "Mereka patut berbangga, sebab ini kesempatan bagus. Dalam arti, dia memiliki pengalaman yang lebih ketimbang rekan-rekannya," ujar Gustav.

Pengalaman hidup bersama pasukan berbagai negara merupakan pengalaman tersendiri yang bisa menambah wawasan yang lebih kompleks dan komprehensif dalam dunia militer. Tugas ke luar negeri akan memberikan nilai tambah bagi prajurit.

"Selama saya bertugas, lebih banyak sukanya ketimbang dukanya. Soalnya saya bisa merasakan berarti bagi dunia lain. Dukanya, saya rasa tidak ada. Seorang tentara sudah biasa tugas berpisah dengan keluarga. Memang berat meninggalkan anak dan istri. Ancaman depresi yang tidak menentu dan menekan perasaan. Tetapi rasa itu cenderung akan tenggelam oleh kebanggaan yang bisa didapat," tutur Gustav.

Dia mengisahkan, memang, setiap pasukan PBB akan mendapat tunjangan sangat lumayan. Mulai dari asuransi dengan jaminan yang sangat besar, kemudian uang saku kepada setiap pasukan. Ketika di Bosnia, dia memperoleh US$ 140 per hari, sedangkan ketika di Kuwait, dia mendapat US$ 90 per hari.

"Tetapi bukan itu yang kita cari. Mendapat kepercayaan negara saja sudah merupakan hal luar biasa," kata Gustav.

Tidak ada komentar: