Senin, 31 Maret 2008

"pejuang" Seroja:bagian Suram Sejarah Timtim

Para cacat veteran Operasi Seroja di Timor Timur (Timtim) dan warakawuri merupakan saksi sejarah bagaimana pasukan ABRI (kini TNI) berjuang mempertaruhkan nyawa di Bumi Loro Sae. Ketika sebagian besar warga Timtim memilih merdeka lewat jajak pendapat, hati mereka pun pedih. Mereka berharap keberadaan mereka diperhatikan dan jangan lagi persoalan besar kebangsaan diputuskan pemerintah dengan gegabah.



Seroja adalah sejenis tumbuhan air berbunga putih dan merah jambu nan indah. Tapi bagi ribuan tentara, terutama mereka yang cacat semasa operasi dengan nama sandi Seroja di Timtim (1976 - 1984), nama seroja seolah menjadi sebuah mimpi buruk. Apalagi setelah hasil jajak pendapat menunjukkan, sebagian besar rakyat Timtim menghendaki kemerdekaan daripada otonomi luas, maka lengkaplah sudah luka hati "pejuang seroja".

"Kalau Anda datang ke sini tanggal 4 September 1999, usai pengumuman hasil jajak pendapat, situasinya sangat muram. Tiba-tiba seperti ada komando mengibarkan bendera merah putih setengah tiang. Semua lampu padam. Orang-orang keluar rumah dan berteriak tak karuan," papar Henu Sunarko, putra seorang cacat veteran Seroja dan Ketua Forum Komunikasi Putra-Putri Pejuang Operasi Seroja Timor Timur (Fokppost), yang belakangan rajin berdemo menentang hasil jajak pendapat.

Merah putih setengah tiang itu kini masih menghias rumah-rumah di Kompleks Wisma Seroja, di kawasan Pondok Ungu, Bekasi Utara, tempat mereka menghabiskan sisa hidupnya. Di kompleks yang bersih ini, selain bermukim penyandang cacat Seroja yang berjumlah 177 orang, juga tinggal 125 orang warakawuri (janda prajurit yang meninggal dalam tugas). Di luar Bekasi, para cacat veteran Seroja juga ada di Surabaya, Malang, Solo, dan Bandung, meskipun jumlahnya tak sebanyak di Kompleks Wisma Seroja Bekasi.



Loper koran dan tukang parkir
Henu bersama Fokppost-nya agaknya kecewa atas sikap pemerintah yang dinilai terlalu gegabah dan tergesa-gesa memutuskan persoalan kebangsaan seperti Timtim. Di lain sisi alternatif pilihan bagi masa depan Timtim tak pernah disosialisasikan secara luas, termasuk kepada keluarga besar pasukan yang terlibat dalam Operasi Seroja. Sehingga hasil jajak pendapat itu akhirnya disikapi dengan reaksional.
Kendati tidak ikut berjuang secara langsung di Timtim, Henu rupanya merasakan benar pahit getirnya jadi putra tentara. Ayahnya, Pelda (Mar) Purn. Priyanto, cacat saat bertugas di Bumi Loro Sae. Sepulang dari sana, ayahnya, dengan dibantu ibunya, mati-matian menutup biaya hidup sehari-hari bagi putra-putranya. Ayahnya mencari tambahan penghasilan sebagai satpam. Sementara ibunya berjualan di pasar. "Saya sendiri pernah jadi tukang parkir di Mayestik dan loper koran," papar Henu lirih.

Untung, setapak demi setapak kerja keras pasangan cacat veteran ini membuahkan hasil. Ayah Henu sudah dipercaya jadi Wakil Kepala Pasar Harapan Jaya Baru. Sementara ia dan kakaknya bisa meraih gelar kesarjanaan.

Kegigihan tampaknya menonjol dalam diri cacat veteran Operasi Seroja dan keluarganya. Mereka berprinsip harus tetap eksis meski harus kerja serabutan, yang penting halal. Adalah Kopka I Made Narsin yang juga punya pandangan seperti itu. Made dikirim ke Timtim tahun 1977 - 1979 dengan pangkat prajurit satu. Sial, dalam sebuah patroli di luar Kota Liquisa tentara pembawa bren ini terkena ranjau yang ditanam di sebuah jalan setapak. Ia terluka, tapi lima orang teman yang ada di depannya selamat melewati ranjau maut itu. "Betis kiri saya langsung putus," kenangnya.

Baku tembak pun segera terjadi antara rekan-rekannya dengan Fretilin. Karena itu Made baru bisa ditolong 15 menit setelah pertempuran reda. Perawatan seadanya lantas diberikan, kaki diikat untuk menahan aliran darah yang banyak keluar. Ia segera dievakuasi ke Liquisa. Sesudah menginap semalam, esok harinya ia diterbangkan ke Dili menggunakan helikopter.

Setiba di ibukota propinsi ini betis kiri Made dipotong lagi tepat di bawah lutut. Untuk menahan rasa sakit ia disuntik tiga jam sekali. Tiga hari kemudian Made yang berasal dari Batalion 742 Lombok ini diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan ulang di RSPAD Gatot Subroto. Di sini kondisi Made diobservasi dan dioperasi kembali.

Sepulang dari RSPAD Gatot Subroto ia harus memakai kaki palsu. Ternyata ini butuh penyesuaian yang tak mudah. Selama setahun ia menghabiskan waktu hanya untuk belajar jalan. Soalnya, kalau tidak pas, kaki bisa bisulan atau lecet. Karier kemiliterannya pun berbalik 180 derajat. Made yang berasal dari kompi artileri berat harus rela pindah ke bagian administrasi. "Sebagaimana hidup manusia, Tuhan sudah ngatur kok. Yang penting kita nggak boleh berpikir yang bukan-bukan," katanya dengan logat Bali yang masih kental.



Upaya untuk bertahan

Dari keterampilan yang ia dapatkan di Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat di Bintaro dan Balai Latihan Kerja di Cijantung, ia kini menerima servis mesin cuci, lemari es, dan AC di rumahnya yang dia tempati sejak 1985. Awalnya, ia harus mencari sendiri pelanggan melalui kenalan-kenalannya. Tapi lama-kelamaan pengguna jasanya mulai datang sendiri lantaran tahu betul kualitas kemampuannya. Bahkan dalam soal garansi, pria bertubuh tinggi besar itu berani memberi garansi sampai dua tahun. "Orang kadang bingung, kok jaminannya lama. Lha saya 'kan yang tahu kondisi mesinnya?" katanya.

Puncak kejayaan usahanya ia alami tahun 1987-1988. Waktu itu dalam sebulan ia bisa mengantungi keuntungan sampai Rp 2,5 juta. Made pun sedikit demi sedikit mulai membeli alat, sehingga ia tak perlu lagi pinjam pada orang lain. "Waktu itu, total anggarannya kira-kira Rp 15 juta," paparnya.

Kini di rumahnya di kompleks Wisma Seroja, tampak berjajar beberapa lemari es yang harus ia perbaiki. Cuma sebelumnya Made perlu berkomunikasi dengan pelanggannya soal harga suku cadang yang semakin mahal. "Kalau biaya perbaikan sudah disepakati saya baru mulai mengerjakan," katanya.

Seperti halnya Made, Kopka Purnomo juga menjalani usaha sampingan untuk menambah keuangan rumah tangganya. Yang dipilih cacat veteran tuna netra ini adalah memijat dan beternak burung perkutut. Sementara istrinya merakit kepala korek api gas.

Orang yang memanfaatkan jasanya tak tentu banyaknya. Mereka umumnya warga Kompleks Wisma Seroja. Kalaupun ada orang luar, tentu sebatas yang mengenalnya. Ia pun bisa dipanggil, tapi sejauh yang bisa dijangkau becak. "Memijat ini cuma hiburan," katanya. Dari menjual jasa ini penghasilan tambahannya tak tentu besarnya. Imbalan jasa yang dia terima untuk sekali memijat juga tak tentu. Sedangkan dari perkututnya ia menjual sepasang anakan berkisar Rp 150.000 - Rp 200.000,-.

Ny. Krantung Malonda Ellen (40), warakawuri Serma Yulius Krantung yang dianggap hilang dan dinyatakan gugur pada 1977, juga berwiraswasta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejak pindah ke Wisma Seroja, Ny. Krantung berjualan sepatu dan celana jins dari Bandung atas ajakan saudaranya. Barang dagangan itu dia titipkan di Toko Kelompok Usaha Mandiri yang berada di dekat pintu masuk kompleks. Sebelumnya ia pernah berusaha di bidang rangkaian bunga. Berkat keuletannya ia bisa menyekolahkan satu-satunya putri tercinta di Program Diploma 3.

Bagi para cacat veteran dan warakawuri yang tidak memiliki usaha, ada kegiatan yang bisa memberi tambahan penghasilan, meskipun tidak banyak. Atas itikad baik dari salah satu produsen korek api gas, mereka diikutkan dalam kegiatan perakitan kepala korek api gas. Pada hari-hari tertentu ribuan komponen kepala korek api gas dikirim ke rumah-rumah mereka melalui koordinatornya. Jatah diberikan atas dasar kemampuan pengerjaan per anggota keluarga.

Ny. Anita, janda dari Serka (Marinir) Memet Mihardja yang gugur di Timtim tahun 1977, hanyalah satu contoh. Usaha sambilan ini mulai ditekuninya sejak 1984. Dalam sehari ia bisa merakit sekitar 2.500 korek dengan imbalan Rp 2,9/kepala korek gas. Ny. Anita bisa mengantungi Rp 40.000 - Rp 50.000,- per bulan.



Antara pedih dan bangga
Meski para cacat veteran Operasi Seroja dan warakawurinya mampu bertahan dalam menjalani hidup, mereka rupanya tak mampu menyembunyikan kepedihan. Tak terkecuali Purnomo. Ia mungkin tidak harus melakukan pekerjaannya yang sekarang bila tidak bertugas ke Timtim. Ketika berangkat ke sana tahun 1983, Purnomo masih bujangan. "Ketika itu saya tak punya kekhawatiran apa-apa, sudah aman 'kan," katanya. Tapi nasib berkata lain, kedua matanya buta terkena pecahan granat dalam sebuah patroli rutin di sekitar Los Palos. Pada peristiwa itu dua orang meninggal termasuk komandan peletonnya. Ia sendiri terluka parah, giginya pecah, pipi sobek, tangan dan kakinya lumpuh, serta matanya tak bisa melihat sampai sekarang.

Luka dan kebutaan sebenarnya tidak membuat Purnomo yang asli Purworejo itu menyesal. Yang ia rasakan justru putus asa, bahkan pernah berniat bunuh diri sampai dua kali semasa dalam perawatan, namun gagal karena ketatnya penjagaan. "Saya hampir menenggak delapan butir pil tidur dan menyilet nadi, tapi ketahuan. Padahal pintu sudah saya kunci. Seluruh ruangan bagian dalam sudah saya raba semua, saya sudah siap ambil silet di bawah kasur. Ternyata siletnya langsung diamankan," katanya kalem.

Baginya yang berat adalah masa-masa awal kecacatannya. "Tersinggung sedikit saja marahnya bukan main," katanya. Bahkan sering lupa ingatan akibat luka kepala yang dialaminya. Ia sering jalan sendiri tak tentu arah dan menabrak pintu pagar rumah sendiri. Selagi dirawat, niatnya cuma satu yaitu melarikan diri untuk bunuh diri. Suatu kali ketika penjaga lengah ia nekad keluar melompat jendela. Lantaran tak melihat, ia cuma mengandalkan ingatan. Ia merasa jalan yang ia lewati benar, tapi rupanya jalan itu sedang digali dan ia terperosok ke dalamnya.

Kepercayaan diri dan semangat hidupnya mulai tumbuh tatkala Purnomo mulai berkumpul dengan sesama cacat veteran Seroja yang cacat terutama yang tidak melihat. Rasa putus asanya berangsur-angsur hilang.

Kopka Elan Sutarna yang mengalami cacat pada mata kanannya juga sempat kehilangan kepercayaan diri. Boro-boro mencari calon pasangan hidup, bertemu orang saja sudah minder. "Waktu pulang dari rumah sakit, saya sudah kayak orang terbuang saja. Seperti ayam tidak punya induk. Jangankan main keluar, nongol di pintu saja rasanya sudah kayak diperhatikan banyak orang. Ya, akhirnya di kamar saja," aku Sekretaris II Korps Cacat Veteran RI cabang khusus Seroja ini. "Kalau bukan orang tua yang mencarikan calon istri, saya nggak bisa kimpoi," tambahnya.

Sementara janda prajurit yang gugur dalam Operasi Seroja pun menderita tekanan batin yang tak kalah pedihnya. Ny. Krantung, misalnya, ketika menceriterakan kisah hidup suaminya sebagai prajurit TNI, matanya sering berkaca-kaca. Kata-katanya lirih dan terputus-putus. Bisa dimengerti karena sampai kini jenazah suaminya tak pernah ditemukan. "Menurut mantan komandan suami saya di Baucau, ada monumen yang memuat daftar 39 orang yang gugur termasuk nama suami saya," katanya memelas.

Karena ketidakjelasan nama korban, berita meninggalnya suaminya baru dia ketahui setelah 3 bulan. "Terus terang saya sangat sedih. Apalagi saya harus membesarkan putri semata wayang saya yang baru berumur dua tahun waktu itu," ungkapnya. Kini putrinya telah tumbuh dewasa. Bahkan sewaktu Fokppost mengadakan aksi demo menentang hasil jajak pendapat, putrinya selalu berada di barisan depan.

Dari sekian panjang rangkaian kepedihan yang dialami para cacat veteran Operasi Seroja dan warakawurinya, ternyata masih menyisakan sepenggal kebanggaan. Ny. Anita mungkin masih bisa dibilang menyimpan kebanggaan itu. Atas jasa-jasa suami ibu tiga orang anak dan nenek seorang cucu ini, nama Memet Mihardja diabadikan sebagai nama jalan di Ksatrian Marinir Cilandak. Kalau saja nama-nama pejuang Seroja yang telah gugur diabadikan seperti itu, barangkali kepedihan yang dirasakan keluarga yang ditinggalkan akan (sedikit) terobati. (G. Sujayanto/I Gede Agung Yudana)


PS :
"BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARAI JASA PARA PAHLAWANNYA" (IR.SOEKARNO)


source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=274970&page=3

Benny Moerdani

Benny Moerdani
Wajah Ganda Seorang Prajurit Komando

BANDARA Halim Perdanakusuma, Jakarta, 31 Maret 1981. Pesawat DC 10 Garuda
mendarat, membawa pulang pasukan antiteror Kopasandha (kini Kopassus).
Pasukan di bawah pimpinan Letnan Kolonel Sintong Panjaitan itu baru saja
membebaskan para sandera serta menewaskan kelima pembajak di Bandara Don
Muang, Bangkok, Thailand.

RATUSAN orang bersorak-sorai menyambut kedatangan mereka, meluber sampai ke
tepi landasan pacu. Di tengah kesibukan upacara, Menteri Penerangan Ali
Moertopo bertanya kepada Panglima Kopkamtib Laksamana Sudomo, "Lho, Benny
ana ngendi, di mana dia?"

Tanpa ada yang memerhatikan, sewaktu penyambutan sedang riuh, Benny
menyelinap turun, lewat pintu di ekor pesawat, keluar dan naik taksi menuju
Cendana, melapor kepada Presiden Soeharto. "Lho, Ben kapan tekamu? (kapan
kau datang?)," tanya Ny Tien Soeharto kaget, melihat Benny tiba-tiba muncul
di ruang tamu.

Benny sering diistilahkan clingus, pemalu, tetapi dia memang tidak senang
upacara dan tetek bengek seremonial. Dengar komentar Ny Theresa Hartini,
istri yang dinikahinya sejak Desember 1964, "Ia tidak pernah mau bercerita
sedang mengerjakan apa, pergi ke mana, dengan siapa akan bertemu. Meskipun
demikian, yang membanggakan dari Bapak, dia selalu ngayomi, melindungi."

TOK-tok-tok, terdengar bunyi pintu diketuk, pada tengah malam buta. Tuan
rumah sambil membuka daun pintu bertanya, "Siapa...?"

Dor, pistol memuntahkan pelurunya. Peluru melesat, pemilik rumah langsung
tergeletak dan tewas. Sambil menimang pistol yang masih mengepul, tamu
tersebut menjawab, "... nama saya Benny."

Ketika lelucon dari Australia itu saya sampaikan kepada Pak Benny, demikian
setiap kali saya menyebut nama Jenderal (Purn) Leonardus Benyamin Moerdani
(1932-2004), tanpa ekspresi, dengan raut mukanya yang selalu dingin, dan
tanpa nada suara berubah, Benny mengatakan, "Ada-ada saja mereka."

Untuk para pengagumnya, dia dilukiskan sebagai prajurit pemberani, lugas,
efisien dalam bertindak, all out, bekerja tuntas, langsung bergerak setelah
menerima perintah dan yang dia yakini benar. Di sisi lain, menurut pandangan
lawannya, Benny adalah pembunuh berdarah dingin, tega menumpas habis semua
musuh, tanpa pertimbangan lain. Dengan prinsip: pukul dulu urusan belakang,
seperti kisah lelucon di atas tadi.

Kritik dan keluhan atas beragam tindakan dan langkah yang pernah dilakukan
Pak Benny tidak semuanya keliru. Pada saat akan menyerbu pesawat Garuda
Indonesia yang dibajak-di Bangkok itu-dia berkata, "Apa pun yang terjadi,
para pembajak harus dibunuh. Kemungkinan ada penumpang yang kena tembakan,
hal itu mungkin sudah suratan nasib. Mereka harus kita beri uang duka dan
dimakamkan di taman pahlawan. Dengan pengorbanannya, mereka adalah
pahlawan."

Untung, tidak seorang penumpang pun jadi korban. Operasi pembebasan sandera
berhasil dengan gemilang, semua pembajak terbunuh. Korban yang kemudian
meninggal beberapa hari setelah kejadian, seorang anggota pasukan khusus dan
kapten pilot Garuda, penerbang pesawat naas itu.

Sintong Panjaitan melukiskan, "Pak Benny memang pemberani, tetapi Beliau
juga selalu campur tangan sampai ke detail pelaksanaan. Di Bangkok, Beliau
bersama pasukan ikut menyerbu ke kabin. Kalau sampai ada peluru nyasar,
Beliau kena, pasti saya yang bakal digantung."

Tidak bisa dilarang?

"Ah you kan tahu. Mana mungkin ada yang berani menentang keinginannya," kata
Sintong.

BERANI bertindak tegas kalau merasa benar, meski dia juga sadar bahwa
tindakannya bisa tidak populer dan mungkin akan merugikan citra pribadinya,
tidak pernah dia hiraukan. Tentang peristiwa di Bangkok, dia menjawab,
"Tugas seorang pemimpin bersama anak buah. Bagaimana mungkin saya diam saja,
sementara para prajurit menyabung nyawa, berkorban membela kehormatan bangsa
dan negara?"

Kebersamaan dengan anak buah salah satu ciri keteladanan Pak Benny. Anak
buah yang sudah bersama-sama ikut bertempur bersama dirinya, sejak terjun
dari udara di Pekanbaru sampai mendarat pakai sampan di Wori, Sulawesi
Utara. Mulai pertempuran kota di Medan (Sumatera Utara) hingga perang
gerilya di tengah belukar Merauke (Papua) dan hutan di Sarawak (Malaysia).
Kebersamaan tersebut tidak pernah terputus, khususnya kepada anak dan
keluarga anak buahnya yang gugur dalam penugasan. Mereka tetap memperoleh
simpati dan empatinya secara pribadi, berikut santunan serta bimbingan.

Abdurrahman Wahid yang akrab dengan sebutan Gus Dur adalah salah seorang
teman dekat Pak Benny meski datang dari spektrum serta latar belakang
berbeda dan kebetulan mereka sama-sama senang membaca. Di tengah kesibukan
masing-masing, dulu mereka sering bertemu berjam-jam hanya untuk membahas
novel- novel spionase, semisal karya John Le Carre, Frederick Forsythe, dan
Len Deighton.

Tentang sosok Pak Benny, Gus Dur menilai dia punya integritas politik lentur
tetapi utuh serta wajah ganda sisi, multifaceted, dari kepribadiannya. Hal
tersebut menampakkan bagian integral dari kehidupannya sebagai anak manusia
sekaligus sosok militer. Bahwa kalaupun kemudian dia hanya berangkat dari
kehidupan militer, Pak Benny memiliki cakrawala pandangan luas dan
menyeluruh. . Sebagai perwira intelijen, dia selalu dituntut mengetahui
banyak hal dan menguasai banyak masalah, terutama latar belakang seorang
yang diajaknya bicara.

Meskipun bisa dekat dan mengaku banyak segi positif yang bisa dipetik dari
Pak Benny-dalam lingkungan militer dan juga dalam penyelenggaraan
pemerintahan, khususnya pada dasawarsa 1980-an-Gus Dur mengaku nuraninya
tetap terusik ketika Pak Benny melaksanakan pembersihan para eks residivis
lewat kebijakan penembakan misterius.

Sebagai seseorang yang selalu menjunjung tinggi hak asasi manusia, Gus Dur
tidak bisa menerima kebijakan tersebut sebagai keharusan. Dalam
pandangannya, mereka yang telah menjalani hukuman, betapa tidak
proporsionalnya hukuman yang dijatuhkan, tetap tidak bisa dihukum untuk
kedua kalinya, tanpa pengadilan ulang dan pengadilan lanjutan.

LAHIR di Cepu pada 2 Oktober 1932, garis keturunan Pak Benny perpaduan dua
latar belakang. Ayahnya, Raden Bagus Moerdani Sosrodirdjo, keturunan Kiai
Suleman, pengajar agama Islam dari Bima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Ibunya, Jeanne Roech, keturunan Jerman.

Tanggal kelahiran Pak Benny berlambang rasi Libra, gambar timbangan. Tentang
ini dia menyebutkan, "Pemilik rasi Libra bukan timbangan statis. Orang Libra
selalu diam, tidak pernah menunjukkan emosi. Kalau menangis tidak berteriak,
hanya keluar air mata. Kalau marah, tidak terlihat di wajah, tetapi dalam
hati."

Dalam penanggalan China, hari kelahirannya bernaung dalam shio monyet.
Menurut Pak Benny, ".... Monyet itu merengut atau tertawa, raut wajahnya
selalu sama."

Dalam penampilan selalu misterius sekaligus otomatis menebarkan citra
membingungkan untuk diamati, sulit sekali menjawab pertanyaan siapakah
Benny.

Sebagai perwira TNI yang mengabdikan dirinya hampir selama 40 tahun dalam
kehidupan militer, di mana sebagian besar dia jalani dalam dunia intelijen
yang sudah jelas tidak akan pernah bisa transparan, sampai kapan pun jejak
kehidupannya akan selalu diselimuti misteri.

Pada kunjungan pertama ke Jakarta, Paul Keating, waktu itu Perdana Menteri
Australia, datang ke Markas Besar ABRI. Selama hampir dua jam Keating
menjelaskan panjang lebar kebijakan luar negeri Australia, khususnya ke
negara tetangga terdekatnya, Indonesia.

Tiba-tiba Pak Benny mengacungkan tangan sambil berkata, "Wow, ternyata kita
berdua punya persamaan...."

Mata Keating langsung berbinar mendengar komentar tersebut. Tetapi belum
sempat senyuman menghiasi wajahnya, Pak Benny melanjutkan, "Persamaannya,
istri kita sama-sama bekas pramugari."

Saya menyaksikan wajah Keating berubah luruh. Memang, tampak luar sosok Pak
Benny pendiam, serius, dan mahal senyum. Sangat berlawanan kalau dia dalam
lingkungan kecil dan di antara rekan dekat serta sahabatnya. Pak Benny
justru seorang pembicara hangat, memikat, serta sering melontarkan lelucon
cerdas yang selalu multitafsir.

Dengan pribadi sarat pertimbangan serta suasana kehidupan masyarakat majemuk
Indonesia, maka nama Pak Benny muncul sebagai mitos. Oleh karena mitos,
menjadi tidak relevan apakah anggapan dari luar tersebut benar atau tidak.
Apakah perkiraan terhadap jati dirinya benar atau salah.

Tidak bisa lain, sebab bayangan senantiasa lebih besar daripada kenyataan.
Apalagi untuk sosok Pak Benny, yang hanya dari namanya saja terasa sinonim
dengan dunia intelijen, penuh serba kemungkinan sekaligus ketidakpastian, di
mana antara bayang-bayang dan kelabu saling menutupi.

Kepergian Pak Benny merupakan kehilangan yang sangat, terutama bagi Tentara
Nasional Indonesia. Dialah salah satu prajurit terbaik yang pernah dimiliki
TNI. Salah satunya dicerminkan dari penghargaan Bintang Sakti, bintang
pengabdian tertinggi seorang prajurit yang disematkan langsung oleh Presiden
Soekarno. Sepantasnyalah apabila Markas Besar TNI memerintahkan semua markas
di jajaran TNI untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari
untuk menghormati kepergian almarhum.

Selamat Jalan Pak Benny.

Jumat, 28 Maret 2008

SEJARAH USMAN DAN HARUN


Usman dan Harun (01)

Masa Kecil Usman alias Janatin

Pada masa penjajahan Jepang, di desa Tawangsari Kelurahan Jatisaba Kabupaten Purbalingga, lahirlah seorang bayi bernama Janatin, tepatnya pada hari Minggu Kliwon tanggal 18 Maret 1943 pukul 10.00 pagi. Janatin lahir dari keluarga Haji Muhammad Ali dengan Ibu Rukiah yang kemudian dikenal dengan nama Usman, salah seorang Pahlawan Nasional.


Hari, bulan dan tahun berjalan terus, Janatin terus tumbuh menjadi besar dan kemudian memasuki lingkungan yang lebih luas sesuai dengan pertumbuhannya dan ia mulai menunjukkan identitas dirinya sebagai Janatin. Orangnya pendiam lagi tidak sombong, memang demikian pembawaannya. Pergaulannya luas, bisa bergaul dengan teman semua lapisan yang sebaya dengannya. Tidak merasa rendah diri walaupun anak desa, dan tidak sombong dengan orang yang lebih lemah dari dia, sehingga ia mempunyai teman banyak.

Sebagai kepala keluarga Haji Muhammad Ali selalu menerangkan agama sebagai landasan hidup. Demikian pula dalam bidang pendidikan sebagai dasarnya beliau menekankan pada pendidikan agama. Tujuannya tidak lain agar kelak putra-putrinya menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa serta tahu membalas jasa orang tua. Karena itu tidaklah mengherankan bila putra-putri Haji Muhammad Ali sedikit banyak mengetahui soal keagamaan dan semua dapat membaca Al Qur'an dengan baik.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Janatin meneruskan ke SMP kota Purbalingga, yang jaraknya kurang lebih sekitar tiga kilometer dari tempat tinggalnya. Ia masuk di sekolah swasta SMP Budi Bhakti. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang mendapatkan simpati di kalangan masyarakat Purbalingga, karena prestasinya sejajar dengan sekolah negeri.
Walaupun Janatin dari kalangan Islam, namun tidak ada halangan dari orang tuanya untuk memasuki sekolah tersebut. Karena tujuan masuk sekolah bukan untuk belajar agama tetapi untuk menuntut ilmu pengetahuan yang akan dipergunakan sebagai bekal hidup. Sedangkan masalah ilmu agama sudah diperoleh di rumah yang diajarkan oleh orang tuanya sendiri.

Sebagai anak desa Janatin tidak lupa akan tugas yang diberikan oleh orang tuanya, yaitu membantu orang tuanya. Ia turut bekerja untuk meringankan beban orang tua, seperti membersihkan kebun, membantu bekerja di sawah dalam mengolah sawahnya, kemudian turut membantu memetik hasil kebun serta memikulnya ke rumah. Setiap hari ia membawa sabit dan menjunjung keranjang untuk mencari makanan binatang piaraan. Pekerjaan demikian sudah menjadi kewajiban yang dijalankan setiap hari, sehingga menjadikan dirinya seorang yang tabah dan ulet.

Di samping itu Janatin ikut juga memperkuat olah raga bulu tangkis di desanya. Permainan bulu tangkis ini diperoleh dari perkenalan dengan anak-anak kota. Untuk arena permainan telah dikorbankan sepetak tanah miliknya yang terletak di dekat rumahnya. Dengan dibukanya lapangan ini banyak mengundang pemuda-pemuda di desanya, bahkan lebih luas lagi sampai ke kota.

Memasuki Kehidupan Militer

Dengan dikomandokannya Trikora pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta oleh Presiden Sukarno, mulailah konfrontasi total terhadap Belanda. Guna menyelenggarakan operasi-operasi militer untuk merebut Irian Barat, maka pada tanggal 2 Januari 1962 Presiden/Pangti ABRI/Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengeluarkan keputusan No. 1 tahun 1962 membentuk Komando Mandala yang bertanggung jawab atas segala kegiatan Operasi ABRI serta Sukarelawan.

Masalah Trikora berkumandang di seluruh pelosok tanah air, telah memanggil segenap lapisan masyarakat dan membangkitkan hati semua pemuda untuk menyumbangkan tenaga dalam pembebasan wilayah yang masih dikuasi Belanda. Kesempatan inilah membuka pintu bagi Janatin untuk memasuki dinas militer, seperti pemuda lainnya dari pelosok tanah air. Sehingga dalam waktu yang singkat berbondong-bondong pemuda Indonesia mendaftarkan diri untuk menjadi Sukarelawan, dan salah seorang yang terpanggil adalah Janatin.

Pada saat itu Janatin sudah menduduki SMP kelas tiga ialam kwartal terakhir. Karena panggilan hatinya yang bergelora ingin menjadi ABRI, maka setelah menyelesaikan pendidikan, Janatin mendaftarkan menjadi ABRI. Sebelumnya ia memang nengagumi angkatan Bersenjata. Hal ini terlihat dari perhatian fanatin kepada kakaknya yang berdinas di Militer. Bila kakaknya pulang, selalu mendapat perhatian dari Janatin, baik dari pakaian seragam, sikap, dan geraknya. Begitu pula setiap melihat anggota ABRI baik tetangga se desa ataupun kenalan selalu menjadi perhatian baginya. pengaruh inilah yang mengilhami dirinya sehingga ingin menjadi seorang militer.

Semula maksud Janatin tidak mendapat restu dari bapaknya, orangtuanya mempunyai pandangan lain, menghendaki agar anaknya melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Haji Muhammad Ali mengharapkan anaknya tidak memasuki dinas militer, beliau sudah merasa cukup karena ketiga kakaknya sudah menjadi ABRI, sedangkan Janatin biarlah mencari pekerjaan yang lain. Namun karena kemauan keras yang tidak dapat dibendung, ia berusaha mendapatkan restu dari ibunya. Akhirnya Janatin mendapat restu dari orangtuanya untuk memasuki dinas militer.

Janatin pada tahun 1962 mulai mengikuti pendidikan militer di Malang yang dilaksanakan oleh Korps Komando Angkatan Laut. Pendidikan ini dilaksanakan guna pengisian personil yang dibutuhkan dalam menghadapi Trikora. Karena itulah Korps Komando Angkatan Laut membuka Sekolah Calon Tamtama (Secatamko), lamanya pendidikan enam bulan dan Janatin termasuk siswa angkatan ke – X . Setiap siswa selesai melakukan pendidikan dan latihan pendidikan amphibi dan perang hutan. Pendidikan ini merupakan kekhususan bagi setiap anggota Korps Komando Angkatan Laut.

Pendidikan Calon Tamtama dilaksanakan bertingkat. Pendidikan dasar militer dilakasanakan di Gunung Sahari. Pendidikan Amphibi dilaksanakan di pusat latihan Pasukan Pendarat di Semampir. Pada akhir seluruh pendidikan diadakan latihan puncak di daerah Purboyo Malang selatan dalam bentuk Suroyudo. Di sinilah letaknya pembentukan disiplin yang kuat, ketangguhan yang luar biasa, keberanian yang pantang menyerah serta membentuk kemampuan fisik di segala medan dan cuaca, merupakan Pembentukan Pendidikan Korps Komando Angkatan Laut. Semua pendidikan ini telah diikuti oleh Janatin sampai selesai, sehingga ia berhak memakai baret ungu.

Berkat pendidikan dan latihan yang diperoleh selama memasuki militer, Janatin tubuhnya menjadi tegap, kekar, pikirannya tambah jernih, korek, yang lebih penting lagi ia terbina dalam disiplin yang tinggi, patuh, taat dan tunduk kepada perintah atasannya.


Janatin pada bulan April 1964 dengan teman-temannya mengikuti latihan tambahan khusus di Cisarua Bogor selama satu bulan. Mayor KKO Boedi Prayitno dan Letnan KKO Harahap masing-masing sebagai Komandan latihan dan wakilnya. Dalam pendidikan khusus ini dibagi dalam 13 Tim, sedangkan materi yang diberikan antara lain: Inteljen, kontra inteljen, sabotase,Demolisi, gerilya, perang hutan dan lain-lain. Dengan bekal dari latihan di Cisarua ini, diharapkan dapat bergerak di daerah lawan untuk mengemban tugas nanti.

Usman dan Harun (02)

Masa Kecil Harun alias Tohir

Sekitar 15 kilometer sebelah utara kota Pahlawan, Surabaya, tampaklah dari kejauhan sebuah pulau kecil yang luasnya kira kira 4 kilometer persegi. Di pulau ini terdapat tempat yang dianggap keramat, karena di pulau inilah pernah dimakamkan seorang kyai yang sangat sakti dan terkenal di masa itu, yaitu Kyai Bawean. Sehingga tempat yang keramat ini terkenal dengan nama Keramat Bawean.

Pada saat tentara Jepang menginjakkan kakinya di Pulau Bawean tanggal 4 April 1943, lahirlah seorang anak laki-laki yang bernama Tohir bin Said. Tohir adalah anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani, yang kemudian terkenal menjadi Pahlawan Nasional dengan nama Harun.

Sejak dibangku Sekolah Dasar ia tertarik dengan kulit-kulit kerang yang terdampar di pasir-pasir tepian pantai daripada memperhatikan pelajaran di sekolah, hal ini akibat seringnya Tohir pergi ke pantai laut. Perahu-perahu yang setiap hari mencari nafkah di tengah-tengah lautan, merupakan daya tarik tersendiri bagi Tohir. Dengan jalan mencuri-curi ia sering menyelinap ikut berlayar bersama perahu-perahu nelayan ke tengah lautan. Bahkan ia sering tidak masuk sekolah ataupun pulang ke rumah, karena mengikuti perahu-perahu layar mencari ikan di tengah laut beberapa hari lamanya.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, tanpa sepengetahuan keluarganya, ia berhasil melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Jakarta sampai mendapatkan ijazah. Sejak ia menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama untuk biaya hidup dan sekolah ia menjadi pelayan kapal dagang, di samping itu tetap rajin belajar mengikuti pelajaran-pelajaran di sekolahnya dengan jalan mengutip kawan-kawannya.

Ia telah menjelajahi beberapa Negara, tetapi yang paling dikenal dan hafal daerahnya adalah daratan Singapura. Kadang kadang ia berhari-hari lamanya tinggal di Pelabuhan Singapura. Dan sering pula ia ikut kapal mondar-mandir antara Singapura – Tanjung Pinang.
Seorang pemuda Tohir tidak terlepas dari persoalan dunia percintaan. Pada masa remaja kira-kira umur 21 tahun ia pernah jatuh cinta dengan seorang gadis idaman hatinya yang bernama Nurlaila.

Tanpa diketahui oleh Samsuri kakak sulungnya sebagai pengganti ayahnya yang sudah meninggal, Tohir dan gadis tersebut telah sepakat untuk kemudian hari membina suatu rumah tangga yang bahagia. Sebagai tanda janjinya gadis tersebut dilingkarkan cicin emas di jari manisnya.


Setelah mendengar kabar, bahwa gadis idaman yang pernah ditandai cincin akan melangsungkan perkawinan dengan seorang pemuda pilihan orang tua sang gadis, Tohir merasa tersinggung. Pada saat di rumah sang gadis sedang ramai-ramainya tamu dan kedua mempelai sudah hampir dihadapkan penghulu, tiba-tiba Tohir dan kawan-kawannya datang menghentikan Upacara perkawinan. Dengan nada marah-marah, ia bersikeras menghendaki agar Upacara perkawinan itu dibatalkan.

Karma penghulu mendapat ancaman dari Tohir, akhirnya lari ke rumah kakaknya yang dekat tempat Upacara perkawinan bekas pacar Tohir di Jalan Jember Lorong 61 Tanjung Priok, minta tolong untuk mencegah tindakan Tohir. Akhirnya Samsuri terpaksa ikut campur dalam masalah perkawinan ini. Ternyata setelah diusut, barulah diketahui bahwa gadis tersebut secara diam-diam dengan Tohir melakukan tunangan.


Sebagai seorang anak yang menghormati orang tua maupun saudaranya yang lebih tua, akhirnya ia menuruti apa yang dikatakan kakaknya untuk mengurungkan niatnya, tapi dengan syarat barang-barang perhiasan dan uang yang sudah diberikan kepada gadis tersebut dikembalikan. Sampai saat ini gadis tersebut masih hidup rukun dengan suami dan anaknya, di bilangan Tanjung Priok.

Memasuki Dunia Militer

Dalam Tim Brahma I dibawah Letnan KKO Paulus Subekti Tohir memulai kariernya sebagai anggota KKO AL. Ia mulai masuk Angkatan Laut bulan Juni 1964, dan ditugaskan dalam Tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI. Di sini ia bertemu dengan Usman alias Janatin bin H. Mohammad ALI dan Gani bin Aroep. Ketiga pemuda ini bergaul cukup erat, lebih-lebih setelah mereka sering ditugaskan bersama sama.

Setelah Tohir memasuki Sukarelawan ALRI, yang tergabung dalam Dwikora dengan pangkat Prajurit KKO II (Prako II) dan mendapat gemblengan selama lima bulan, di daerah Riau daratan, pada tanggal 1 Nopember 1964. Kemudian pada tanggal 1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral KKO I (Kopko I).

Selesai mendapatkan gemblengan di Riau daratan sebagai Sukarelawan Tempur bersama-sama rekan-rekan lainnya, ia dikirim ke Pulau Sambu. Hingga beberapa lamanya rombongan Tohir dan kawan-kawannya yang tergabung dalam kesatuan A KOTI Basis X melaksanakan tugas di Pulau Sambu. Tohir sendiri telah ke Singapura beberapa kali, dan sering mendarat ke Singapura menyamar sebagai pelayan dapur, ia ke sana menggunakan kapal dagang yang sering mampir ke Pulau Sambu untuk mengisi bahan bakar.

Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam penyamarannya. Bahasa Inggeris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan lancar telah membantu pula dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul di tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina.

Usman dan Harun (03)

Pertemuan Dalam Operasi Dwikora

Baru saja TNI AL selesai melaksanakan tugas-tugas operasi dalam mengembalikan Irian Barat ke wilayah kekuasaan RI, timbul lagi masalah baru yang harus dihadapi oleh seluruh bangsa Indonesia, dengan dikomandokannya Dwikora oleh Presiden Sukarno pada tanggal 3 Mei 1964 di Jakarta. Komando tersebut mendapat sambutan dari lapisan masyarakat, termasuk ABRI. Hal ini terbukti bahwa rakyat Indonesia berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai sukarelawan Dwikora sehingga mencapai jumlah 21 juta sukarelawan.

Penggunaan tenaga sukarelawan ini membawa dampak yang besar. Dilihat dari segi positifnya memang sangat menguntungkan, karena perang yang akan dihadapi tidak secara frontal, sehingga akan membingungkan pihak lawan. Tetapi dari segi negatif kurang menguntungkan, karena apabila sukarelawan itu tertangkap ia akan diperlakukan sebagai penjahat biasa, jadi bukan sebagai tawanan perang di lindungi oleh UU Perang. Jika Sukarelawan itu tertangkap oleh lawan, resikonya disiksa secara kejam.

Untuk melindungi Operasi tersebut di atas, KOTI kemudian memutuskan untuk mempergunakan tenaga-tenaga militer lebih banyak guna mendampingi sukarelawan-sukarelawan tersebut, memperkuat kekuatan Sukarelawan Indonesia di daerah musuh.
Untuk mendukung Operasi A. KKO AL mengirimkan 300 orang anggota yang terdiri dari Kopral sampai Perwira. Sebelum melaksanakan Operasi A. mereka diwajibkan mengikuti pendidikan khusus di Cisarua Bogor. Selesai latihan mereka dibagi dalam tim-tim dengan kode Kesatuan Brahma dan ditugaskan di daerah Semenanjung Malaya (Basis II) dan di Kalimantan Utara (Basis IV). Yang dikerahkan di Semenanjung Malaya terdiri dari tim Brahma I beranggotakan 45 orang, tim Brahma II 50 orang, tim Brahma III 45 orang dan tim Brahma V 22 orang.

Semenanjung Malaya (Basis II) dibagi beberapa Sub. Basis:
1. Sub Basis X yang berpangkalan di P. Sambu dan Rengat dengan sasaran Singapura.
2. Sub. Basis Y dengan sasaran Johor bagian barat dan Pangkalan Tanjung Balai.
3. Sub. Basis T yang berpangkalan di P. Sambu dengan sasaran Negeri Sembilan, Selangor dan Kuala Lumpur.
4. Sub. Basis Z dengan sasaran Johor bagian timur.
Sedangkan Tugas Basis II:
1. Mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan.
2. Melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah masing-masing.
3. Melaksanakan demolision, sabotase pada obyek militer maupun ekonomis.
4. Mengadakan propaganda, perang urat syarat
5. Mengumpulkan informasi.
6. Melakukan kontra inteljen.

Dalam operasi ini Janatin/Usman melakukan tugas ke wilayah Basis II. A Koti, ia berangkat menuju Pulau Sambu sebagai Sub Basis dengan menggunakan kapal jenis MTB. Kemudian menggabungkan diri dengan Tim Brahma I di bawah pimpinan Kapten Paulus Subekti yang pada waktu itu menyamar dengan pangkat Letkol KKO - AL dan merangkap menjadi Komandan Basis X yang berpangkalan di Pulau Sambu Riau. Ketika Usman menggabungkan dengan kawan-kawannya,, ia berkenalan dengan Harun dan Gani bin Arup, mereka ini merupakan sahabat yang akrab dalam pergaulan. Dalam tim ini Usman dan Harun mendapat tugas yang sama untuk mengadakan sabotase di Singapura.

Meskipun Usman bertindak sebagai Komandan Tim dan usianya sedikit lebih tua dari Harun, demikian pula ia lebih banyak berpengalaman dalam bidang militer, tetapi ia mengakui masih kurang pengalaman dalam wilayah Singapura. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya di Singapura, ia lebih banyak memberikan informasi kepada Usman. Harun telah hafal betul tentang keadaan dan tempat-tempat di Singapura, karena Harun pernah tinggal di sana. Tetapi sebagai seorang militer, mereka masing-masing telah mengetahui apa tugas-tugas mereka sebagai Komandan dan bawahan.

. Karena ketatnya penjagaan daerah lawan dan sukar ditembus maka satu-satunya jalan yang ditempuh ialah menyamar sebagai pedagang yang akan memasukkan barang dagangannya ke wilayah Malaysia dan Singapura. Usaha tersebut kelihatan membawa hasil yang memuaskan, karena dengan jalan ini anggota sukarelawan berhasil masuk ke daerah lawan yang kemudian dapat memperoleh petunjuk yang diperlukan untuk melakukan tindakan selanjutnya. Dari penyamaran sebagai pedagang ini banyak diperoleh data yang penting bagi para Sukarelawan untuk melakukan kegiatan. Dengan taktik demikian para Sukarelawan telah berhasil menyusup beberapa kali ke luar masuk daerah musuh.

Untuk memasuki daerah musuh agar tidak menimbulkan kecurigaan lawan, para sukarelawan menggunakan nama samaran, nama di sini disesuaikan dengan nama-nama dimana daerah lawan yang dimasuki. Demikian Janatin mengganti namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji Muhammad Ali. Sehingga nama samaran ini lengkapnya Usman bin Haji Muhammad Ali. Sedangkan Tohir menggunakan nama samaran Harun, dan lengkapnya Harun bin Said. Dengan nama samaran ini Usman, Harun dan Gani melakukan penyusupan ke daerah Singapura untuk melakukan penyelidikan dan pengintaian tempat-tempat yang dianggap penting.

Sedangkan di front belakang telah siap siaga kekuatan tempur yang setiap saat dapat digerakkan untuk memberikan pukulan terhadap lawan. Kekuatan ini terus bergerak di daerah sepanjang perbatasan untuk mendukung para Sukarelawan yang menyusup ke daerah lawan dan apabila perlu akan memberikan bantuan berupa perlindungan terhadap Sukarelawan yang dikejar oleh musuh di daerah perbatasan.

Usman dan Harun (05)

Gagal Kembali ke Pangkalan

Usaha ketiga Sukarelawan kembali ke pangkalan dengan jalan masing-masing. Tetapi Usman yang bertindak sebagai pimpinan tidak mau melepas Harun berjalan sendiri, hal ini karena Usman sendiri belum faham betul dengan daerah Singapura, walaupun ia sering memasuki daerah inf. Karena itu Usman meminta kepada Harun supaya mereka bersama-sama mencari jalan keluar ke pangkalan.

Untuk menghindari kecurigaan terhadap mereka berdua, mereka berjalan saling berjauhan, seolah-olah kelihatan yang satu dengan yang lain tidak ada hubungan sama sekali. Namun walaupun demikian tetap tidak lepas dari pengawasan masing-masing dan ikatan mereka dijalin dengan isyarat tertentu. Semua jalan telah mereka tempuh, namun semua itu gagal.

Dengan berbagai usaha akhirnya mereka berdua dapat memasuki pelabuhan Singapura, mereka dapat menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan berlayar menuju Bangkok. Kedua anak muda itu menyamar sebagai pelayan dapur. Sampai tanggal 12 Maret 1965 mereka berdua bersembunyi di kapal tersebut.

Tetapi pada malam itu, waktu Kapten kapal Begama mengetahui ada dua orang yang bukan anak buahnya berada dalam kapal, lalu mengusir mereka dari kapal. Kalau tidak mau pergi dari kapalnya, akan dilaporkan kepada Polisi. Alasan mengusir kedua pemuda itu karena takut diketahui oleh Pemerintah Singapura, kapalnya akan ditahan. Akhirnya pada tanggal 13 Maret 1965 kedua Sukarelawan Indonesia keluar dari persembunyiannya.

Usman dan Harun terus berusaha mencari sebuah kapal tempat bersembunyi supaya dapat keluar dari daerah Singapura. Ketika mereka sedang mencari-cari kapal, tiba-tiba tampaklah sebuah motorboat yang dikemudikan oleh seorang Cina. Daripada tidak berbuat akan tertangkap, lebih baik berbuat dengan dua kemungkinan tertangkap atau dapat lolos daribahaya.

Akhirnya dengan tidak pikir panjang mereka merebut motorboat dari pengemudinya dan dengan cekatan mereka mengambil alih kemudi, kemudian haluan diarahkan menuju ke Pulau Sambu. Tetapi apadaya manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan. Sebelum mereka sampai ke perbatasan peraian Singapura, motorboatnya macet di tengah laut. Mereka tidak dapat lagi menghindari diri dari patroli musuh, sehingga pada pukul 09.00 tanggal 13 Maret 1965 Usman dan Harun tertangkap di bawa ke Singapura sebagai tawanan.

Mereka menyerahkan diri kepada Tuhan, semua dihadapi walau apa yang terjadi, karena usaha telah maksimal untuk mencari jalan. Nasib manusia di tangan Tuhan, semua itu adalah kehendak-Nya. Karena itulah Usman dan Harun tenang saja, tidak ada rasa takut dan penyesalan yang terdapat pada diri mereka.

Sebelum diadili mereka berdua mendekam dalam penjara. Mereka dengan sabar menunggu saat mereka akan dibawa ke meja hijau. Alam Indonesia telah ditinggalkan, apakah untuk tinggal selama-lamanya, semua itu hanya Tuhan yang Maha Mengetahui.

Usman dan Harun (06)

Tabah Sampai Akhir

Proses pengadilan: Usman dan Harun selama kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjara Singapura sebagai tawanan dan mereka dengan tabah menunggu prosesnya. Pada tanggal 4 Oktober 1965 Usman dan Harun di hadapkan ke depan sidang Pengadilan Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J. Chua sebagai Hakim. Usman dai Harun dihadapkan ke Sidang Pengadilan Tinggi (High Court) Singapura dengan tuduhan:


1. Menurut ketentuan International Security Act Usman dan Harun telah melanggar Control Area.
2. Telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang.
3. Telah menempatkan alat peledak dan menyalakannya.

Dalam proses pengadilan ini, Usman dan Harun tidak dilakukan pemeriksaan pendahuluan, sesuai dengan Emergency Crimina Trials Regulation tahun 1964. Dalam Sidang Pengadilan Tinggi (Hight Court) kedua tertuduh Usman dan Harun telah menolak semua tuduhan itu. Hal ini mereka lakukan bukan kehendak sendiri, karena dalam keadaan perang. Oleh karena itu mereka meminta kepada sidang supaya mereka dilakukan sebagai tawanan perang (Prisoner of War).

Namun tangkisan tertuduh Usman dan Harun tidak mendapat tanggapan yang layak dari sidang majelis. Hakim telah menola permintaan tertuduh, karena sewaktu kedua tertuduh tertangkap tidak memakai pakaian militer. Persidangan berjalan kurang lebih dua minggu, pada tanggi 20 Oktober 1965 Sidang Pengadilan Tinggi (Hight Court) yan dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskan bahwa Usman da Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnya tiga orang sipil. Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.

Pada tanggal 6 Juni 1966 Usman dan Harun mengajukan naik banding ke Federal Court of Malaysia dengan Hakim yang mengadilinya: Chong Yiu, Tan Ah Tah dan J.J. Amrose. Pada tanggal 5 Oktober 1966 Federal Court of Malaysia menolak perkara naik banding Usman dan Harun. Kemudian pada tanggal 17 Februari 1967 perkara tersebut diajukan lagi ke Privy Council di London. Dalam kasus ini Pemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaitu Mr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol (L) Gani Djemat SH Atase ALRI di Singapura. Usaha penyelamatan jiwa kedua pemuda Indonesia itu gagal. Surat penolakan datang pada tanggal 21 Mei 1968.

Setelah usaha naik banding mengenai perkara Usman dan Harun ke Badan Tertinggi yang berlaku di Singapura itu gagal, maka usaha terakhir adalah untuk mendapat grasi dari Presiden Singapura Yusuf bin Ishak. Permohonan ini diajukan pada tanggal 1 Juni 1968. Bersamaan dengan itu usaha penyelamatan kedua prajurit oleh Pemerintah Indonesia makin ditingkatkan.

Kedutaan RI di Singapura diperintahkan untuk mempergunakan segala upaya yang mungkin dapat dijalankan guna memperoleh pengampunan. Setidak-tidaknya memperingan kedua sukarelawan Indonesia tersebut. Pada tanggal 4 Mei 1968 Menteri Luar Negeri Adam Malik berusaha melalui Menteri Luar Negeri Singapura membantu usaha yang dilakukan KBRI. Ternyata usaha inipun mengalami kegagalan. Pada tanggal 9 Oktober 1968 Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi atas hukuman mati Usman dan Harun ditolak oleh Presiden Singapura.

Pemerintah Indonesia dalam saat-saat terakhir hidup Usman dan Harun terus berusaha mencari jalan. Pada tanggal 15 Oktober 1968 Presiden Suharto mengirim utusan pribadi, Brigjen TNI Tjokropanolo ke Singapura untuk menyelamatkan kedua patriot Indonesia. Pada saat itu PM Malaysia Tengku Abdulrahman juga meminta kepada Pemerintah Singapura agar mengabulkan permintaan Pemerintah Indonesia. Namun Pemerintah Singapura tetap pada pendiriannya tidak mengabulkannya. Bahkan demi untuk menjaga prinsip-prinsip tertib hukum, Singapura tetap akan melaksanakan hukuman mati terhadap dua orang KKO Usman dan Harun, yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Ok tober 1968 pukul 06.00 pagi waktu Singapura.

Permintan terakhir Presiden Suharto agar pelaksanaan hukuman terhadap kedua mereka ini dapat ditunda satu minggu untuk mempertemukan kedua terhukum dengan orang tuanya dan sanak farmilinya. Permintaan ini juga ditolak oleh Pemerintah Singapura tetap pada keputusannya, melaksanakan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun.

Pesan terakhir.
Waktu berjalan terus dan sampailah pada pelaksanaan hukuman, dimana Pemerintah Singapura telah memutuskan dan menentukan bahwa pelaksanaan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968, tepat pukul 06.00 pagi Dunia merasa terharu memikirkan nasib kedua patriot Indonesia yang gagah perkasa, tabah dan menyerahkan semua itu kepada pencipta - Nnya.

Seluruh rakyat Indonesia ikut merasakan nasib kedua patriot ini. Demikian juga dengan Pemerintah Indonesia, para pemimpin terus berusaha untuk menyelesaikan masalah ini. Sebab merupakan masalah nasional yang menyangkut perlindungan dan pem belaan warga negaranya. Satu malam sebelum pelaksanaan hukuman, hari Rabu sore tanggal 16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolo sebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi.

Dengan diantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dan didampingi Atase Angkatan Laut Letkol (G) Gani Djemat SH, dapat berhadapan dengan Usman dan Harun di balik terali besi yang menyeramkan pada pukul 16.00. Tempat inilah yang telah dirasakan oleh Usman dan Harun selama dalam penjara dan di tempat ini pula hidupnya berakhir.

Para utusan merasa kagum karena telah sekian tahun meringkuk dalam penjara dan meninggalkan tanah air, namun dari wajahnya tergambar kecerahan dan kegembiraan, dengan kondisi fisik yang kokoh dan tegap seperti gaya khas seorang prajurit KKO AL yang tertempa. Tidak terlihat rasa takut dan gelisah yang membebani mereka, walaupun sebentar lagi tiang gantungan sudah menunggu.

Keduanya segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat serta memberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkan Brigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikian membuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasa berat untuk menyampaikan pesan. Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagai pertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemu lagi untuk selamanya.

Hanya satu-satunya pesan yang disampaikan adalah bahwa Presiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa mereka berdua terhadap Negara. Sebagai manusia beragama, Brigjen Tjokropranolo mengingatkan kembali supaya tetap teguh, tawakal dan berdoa, percayalah bahwa Tuhan selalu bersama kita. Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pula menyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untuk dimakamkan berdampingan di Indonesia.

Sebelum berpisah Usman dan Harun dengan sikap sempurna menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Jenderal Suharto atas usahanya, kepada Jenderal Panggabean, kepada mahasiswa dan pelajar, Sarjana Hukum, dan Rakyat Indonesia yang telah melakukan upaya kepadanya. Pertemuan selesai, Sersan KKO Usman memberikan aba-aba, dan keduanya memberi hormat.

Usman dan Harun (07)

Menjalani Hukuman Mati

Pada saat ketiga pejabat Indonesia meninggalkan penjara Changi, Usman dan Harun kembali masuk penjara, tempat yang tertutup dari keramaian dunia. Usman dan Harun termasuk orang-orang yang teguh terhadap agama. Mereka berdua adalah pemeluk agama Islam yang saleh. Di alam yang sepi itu menambah hati mereka semakin dekat dengan penciptaNya. Karena itu empat tahun dapat mereka lalui dengan tenang. Mereka selalu dapat tidur dengan nyenyaknya walaupun pelaksanaan hukuman mati semakin dekat.

Pemerintah dan rakyat Indonesia mengenang kembali perjuangan kedua pemuda ini dan dengan keharuan ikut merasakan akan nasib yang menimpa mereka. Sedangkan Usman dan Harun dengan tenang menghuni penjara Changi yang sepi dan suram itu. Mereka menghuni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tembok, sedangkan di luar para petugas terus mengawasi dengan ketat. Usman dan Harun yang penuh dengan iman dan taqwa dan semangat juang yang telah ditempa oleh Korpsnya KKO AL menambah modal besar untuk memberikan ketenangan dalam diri mereka yang akan menghadapi maut.

Di penjara Changi, pada hari itu udara masih sangat dingin Suasana mencekam, tetapi dalam penjara Changi kelihatan sibuk sekali. Petugas penjara sejak sore sudah berjaga-jaga, dan pada hari itu tampak lebih sibuk lagi.

Di sebuah ruangan kecil dengan terali-terali besi rangkap dua Usman dan Harun benar-benar tidur dengan pulasnya. Meskipun pada hari itu mereka akan menghadapi maut, namun kedua prajurit itu merasa tidak gentar bahkan khawatirpun tidak. Dengan penuh tawakal dan keberanian luar biasa mereka akan menghadapi tali gantungan.

Sikap kukuh dan tabah ini tercermin dalam surat-surat yang mereka tulis pada tanggal 16 Oktober 1968, yang tetap melambangkan ketegaran jiwa dan menerima hukuman dengan gagah berani. Betapa tabahnya mereka menghadapi kematian, hal in dapat dilihat dari surat-surat mereka yang dikirimkan kepada keluarganya:

Sebagian Surat Usman yang berbunyi sebagai berikut:
Berhubung tuduhan dinda yang bersangkutan maka perlu anak anda menghaturkan berita duka kepangkuan Bunda sekeluarga semua di sini bahwa pelaksanaan hukuman mati ke atas anakanda telah diputus kan pada 17 Oktober 1968, hari Kamis 24 Rajab 1388.

Sebagian isi surat dari Harun sebagai berikut:
Bersama ini adindamu menyampaikan berita yang sangat mengharukan seisi kaum keluarga di sana itu ialah pada 14-10-1968 jam 10.00 pagi waktu Singapura rayuan adinda tetap akan menerima hukuman gantungan sampai mati.

Menghadapi Tiang Gantungan
Pukul 05.00 subuh kedua tawanan itu dibangunkan oleh petugas penjara, kemudian disuruh sembahyang menurut agamanya masing-masing. Sebenarnya tanpa diperintah ataupun dibangunkan Usman dan Harun setiap waktu tidak pernah melupakan kewajibannya untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena sejak kecil kedua pemuda itu sudah diajar masalah keagamaan dengan matang.

Setelah melakukan sembahyang Usman dan Harun dengan tangan diborgol dibawa oleh petugas ke kamar kesehatan untuk dibius. Dalam keadaan terbius dan tidak sadar masing-masing urat nadinya dipotong oleh dokter tersebut, sehingga mereka berdua lumpuh sama sekali. Dalam keadaan ,lumpuh dan tangan tetap diborgol, Usman dan Harun dibawah petugas menuju ke tiang gantungan. Tepat pukul 06.00 pagi hari Kamis tanggal 17 Oktober 1968 tali gantungan kalungkan ke leher Usman dan harun.

Pada waktu itu pula seluruh rakyat Indonesia yang mengetahui bahwa kedua prajurit Indonesia digantung batang lehernya tanpa mengingat segi-segi kemanusiaan menundukkan kepala sebagai tanda berkabung. Kemudian mereka menengadah berdoa kepada Illahi semoga arwah kedua prajurit Indonesia itu mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Mereka telah terjerat di ujung tali gantungan di negeri orang, Jauh dari sanak keluarga, negara dan bangsanya.Mereka pergi untuk selama-lamanya demi kejayaan Negara, Bangsa dan Tanah Air tercinta.

Eksekusi telah selesai, Usman dan Harun telah terbujur, terpisah nyawa dari jasadnya. Kemudian pejabat penjara Changi keluar menyampaikan berita kepada para wartawan yang telah menanti dan tekun mengikuti peristiwa ini, bahwa hukuman telah dilaksanakan. Dengan sekejap itu pula tersiar berita ke seluruh penjuru dunia menghiasi lembaran mass media sebagai pengumuman terhadap dunia atas terlaksananya hukuman gantungan terhadap Usman dan Harun.

Bendera merah putih telah dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung. Sedangkan masyarakat Indonesia yang berada di Singapura berbondong-bondong datang membanjiri Kantor Perwakilan Indonesia dengan membawa karangan bunga sebagai tanda kehormatan terakhir terhadap kedua prajuritnya.

Begitu mendapat berita pelaksanaan eksekusi PemerintaH Indonesia mengirim Dr. Ghafur dengan empat pegawai KedutaaN Besar RI ke penjara Changi untuk menerima kedua jenazah iti dan untuk dibawa ke Gedung Kedutaan Besar RI untuk dise mayamkan. Akan tetapi kedua jenazah belum boleh dikeluarkan dari penjara sebelum dimasukkan ke dalam peti dan menunggu perintah selanjutnya dari Pemerintah Singapura.

Pemerintah Indonesia mendatangkan lima Ulama untuk mengurus kedua jenazah di dalam penjara Changi. Setelah jenazah di masukkan ke dalam peti, Pemerintah Singapura tidak mengizinkan Bendera Merah Putih yang dikirimkan Pemerintah Indonesia untuk di selubungkan pada peti jenazah kedua Pahlawan tersebut pada saat masih di dalam penjara. Pukul 10.30 kedua jenzah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI.

Usman dan Harun (08)

Penghormatan Terakhir dan Anugerah

Setelah mendapatkan penghormatan terakhir dari masya rakat Indonesia di KBRI, pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telah menunggu pesawat TNI—AU. yang akan membawa ke Tanah Air.

Pada hari itu Presiden Suharto sedang berada di Pontianak meninjau daerah Kalimantan Barat yang masih mendapat gangguan dari gerombolan PGRS dan Paraku. Waktu Presiden diberitahukan bahwa Pemerintah Singapura telah melaksanakan hukuman gan tung terhadap Usman dan Harun, maka Presiden Suharto menyata kan kedua prajurit KKO-AL itu sebagai Pahlawan Nasional.

Pada pukul 14.35 pesawat TNI—AU yang khusus dikirim dari Jakarta meninggalkan lapangan terbang Changi membawa kedua jenazah yang telah diselimuti oleh dua buah bendera Merah Putih yang dibawa dari Jakarta. Pada hari itu juga, tanggal 17 Oktober 1968 kedua Pahlawan Usman dan Harun telah tiba di Tanah Air. Puluhan ribu, bahkan ratusan ribu rakyat Indonesia menjemput kedatangannya dengan penuh haru dan cucuran air mata. Sepanjang jalan antara Kemayoran, Merdeka Barat penuh berjejal manusia yang ingin melihat kedatangan kedua Pahlawannya, Pahlawan yang membela kejayaan Negara, Bangsa dan Tanah Air.

Setibanya di lapangan terbang Kemayoran kedua jenazah Pahlawan itu diterima oleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI R. Muljadi dan seterusnya disemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pada upacara penyerahan kedua jenazah Pahlawan ini menimbulkan suasana yang mengharukan. Di samping kesedihan yang meliputi wajah masyarakat yang menghadiri upacara tersebut, di dalam hati mereka tersimpan kemarahan yang tak terhingga atas perlakuan negara tetangga yang sebelumnya telah mereka anggap sebagai sahabat baik. Pada barisan paling depan terdiri dari barisan Korps Musik KKO—AL yang memperdengarkan musik sedih lagu gugur bunga, kemudian disusul dengan barisan karangan bunga.

Kedua peti jenazah tertutup dengan bendera Merah Putih yang ditaburi bunga di atasnya. Kedua peti ini didasarkan kepada Inspektur Upacara Laksamana TNI R. Mulyadi yang kemudian diserahkan kepada Kas Hankam Letjen TNI Kartakusumah di Aula Hankam. Di belakang peti turut mengiringi Brigjen TNI Tjokropranolo dan Kuasa Usaha RI untuk Singapura Letkol M. Ramli yang langsung mengantar jenazah Usman dan Harun dari Singapura. Suasana tambah mengharukan dalam upacara ini karena baik Brigjen Tjokropranolo maupun Laksamana R. Muljadi kelihatan meneteskan air mata.

Malam harinya, setelah disemayamkan di Aula Hankam mendapat penghormatan terakhir dari pejabat-pejabat Pemerintah, baik militer maupun sipil, Jenderal TNI Nasution kelihatan bersama pengunjung melakukan sembahyang dan beliau menunggui jenazah Usman dan Harun sampai larut malam.

Tepat pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum'at, kedua jenazah diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir. Jalan yang dilalui iringan ini dimulai Jalan Merdeka Barat, Jalan M.H. Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan Pasar Minggu dan akhirnya sampai Kalibata. Sepanjang jalan yang dilalui antara Merdeka Barat dan Kalibata, puluhan ribu rakyat berjejal menundukkan kepala sebagai penghormatan terakhir diberikan kepada kedua Pahlawannya. Turut mengiringi dan mengantar kedua jenazah ini, pihak kedua keluarga, para Menteri Kabinet Pembangunan.

Laksamana R. Muljadi, Letjen Kartakusumah, Perwira-perwin Tinggi ABRI, Korps Diplomatik, Ormas dan Orpol, dan tidak ketinggalan para pemuda dan pelajar serta masyarakat. Upacara pemakaman ini berjalan dengan penuh khidmat dan mengharukan. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat yang layak sesuai dengan amal bhaktinya.

Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan, peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat. Suasana bertambah haru setelah diperdengarkan lagu Gugur Bunga.

Pengorbanan dan jasa yang disumbangkan oleh Usman dar Harun terhadap Negara dan Bangsa maka Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usmar alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.


Surat Terakhir

Surat terakhir dari Osman bin Haji Mohammad Ali dari Singapura kepada orang tuanya saat-saat sebelum pelaksanaan pidana mati.

Salinan
In replying to this letter, please write on the envelope Number Cond, 215/65
Name : Osman bin H. Mhd. Ali. Changi Prison, 16 Oktober 1968.

Dihaturkan
Bunda ni Haji Mochamad Ali
Tawangsari.
Dengan ini anaknda kabarkan bahwa hingga sepeninggal surat ini tetap mendo'akan Bunda, Mas Choenem, Mas Matori, Mas Chalim, Ju Rochajah, Ju Rodiijah + Tur dan keluarga semua para sepuh Lamongan dan Purbalingga Laren Bumiayu.

Berhubung tuduhan dinda yang bersangkutan dengan nasib dinda dalam rayuan memohon ampun kepada Pemerintah Republik Singapura tidak dapat dikabulkan maka perlu ananda menghaturkan berita duka kepangkuan Bunda dan keluarga semua di sini bahwa pelaksanaan hukuman mati ke atas ananda telah diputuskan pada 17 Oktober 1968 Hari Kamis Radjab 1388.

Sebab itu sangat besar harapan anaknda dalam menghaturkan sudjud di hadapan bunda, Mas Choenem, Mas Madun, Mas Chalim, Jur Rochajah, Ju Khodijah t Turijah para sepuh lainnya dari Purbolingga Laren Bumiayu Tawangsari dan Jatisaba sudi kiranya mengickhlaskan mohon ampun dan maaf atas semua kesalahan yang anaknda sengajaa maupun yang tidak anaknda sengaja.

Anaknda di sana tetap memohonkan keampunan dosa kesalahan Bunda saudara semua di sana dan mengihtiarkan sepenuh-penuhnya pengampunan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Anaknda harap dengan tersiarnya kabar yang menyedihkan ini tidak akan menyebabkan akibat yang tidak menyenangkan bahkan sebaliknya ikhlas dan bersukurlah sebanyak-banyaknya rasa karunia Tuhan yang telah menentukan nasib anaknda sedemikian mustinya.
Sekali lagi anaknda mohon ampun dan maaf atas kesalahan dan dosa anaknda kepangkuan Bunda Mas Choenem, Mas Matori, Mas Chalim, Ju Rochajah, Ju Pualidi , Rodijah, Turiah dan keluarga Tawangsari Lamongan Jatisaba Purbolingga Laren Bumiayu.

Anaknda,
Ttd.
(Osman bin Hadji Ali)

Surat terakhir dari Harun bin Said dari Singapura kepada orang tuanya saat-saat sebelum pelaksanaan pidana mati.

Salinan
In replying to this letter, please write on the envelope Number Con. 216/65
Name: Harun Said Tohir Mahadar Changi Prison, 14 Oktober 1968.

Dihaturkan
Yang Mulia Ibundaku
Aswiani Binti Bang.
yang diingati siang dan malam.

Dengan segala hormat.

Ibundaku yang dikasihani surat ini berupa surat terakhir dari ananda Tohir. Ibunda sewaktu ananda menulis suat ini hanya tinggal beberapa waktu saja ananda dapat melihat dunia yang fana ini, pada tanggal 14 Oktober 196 rayuan ampun perkara ananda kepada Presiden Singapura telah ditolak jadi mulai dari hari ini Ananda hanya tinggal menunggu hukuman yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 1968. Hukuman yang akan diterima oleh ananda adalah hukuman digantung sampai mati, di sini ananda harap kepada Ibunda supaya bersabar karena setiap kematian manusia adalah tidak siapa yang boleh menentukan satu-satunya yang menentukan ialah Tuhan Yang Maha Kuasa dan setiap manusia yang ada di dalam dunia ini tetap akan kembali kepada Illahi. Mohon Ibunda ampunilah segala dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan ananda selama ini sudilah Ibundaku menerima ampun dan salam sembah sujud dari ananda yang terakhir ini, tolong sampaikan salam kasih mesra ananda kepada seisi kaum keluarga ananda tutup surat ini dengan ucapan terima kasih dan Selamat Tinggal untuk selama-lamanya, amin.

Hormat ananda,
Ttd.
Harun Said Tohir Mahadar

Jangan dibalas lagi.

Alamat di sampul surat. Diaturkan kepangkuan
Ibunda Aswiani Binti Bang. Gang 60 no. 11 Tanjung Priok Jakarta — Indonesia.
Dari/Ananda Harun Said Tohir Mahad Cond, 216/65 Changi Prison S'pura 17

SIAPA YANG MAIN API DI SOWAMPA?

SIAPA YANG MAIN API DI SOWAMPA?

Majalah Tempo Edisi 19/14, 7 Jul 1984


Deskripsi
PNG MENGIRIM NOTA PROTES. PASUKAN RI DITUDUH MELINTASI
PERBATASAN DAN MEMBAKAR DESA SOWAMPA. ITU ULAH OPM. (NAS)



TEKA-teki tentang sejumlah pasukan Indonesia yang dituding telah
melintasi perbatasan dan membakar perkampungan penduduk di
Sowampa - 1,4 km masuk wilayah Papua Nugini mungkin segera
terjawab. Rabu minggu ini, sebuah tim gabungan Indonesia dan PNG
- antara lain dubes RI di Port Moresby Iman Soepomo dan pejabat
tlnggi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) PNG mengecek langsung
tempat insiden itu. Mereka akan segera melaporkan kepada
pemerintah, masing-masing mengenai kejadian yang lagi-lagi
sempat membuat tegang hubungan kedua negara.

Menurut berita yang tersiar minggu lalu, mengutip penjabat menlu
PNG Tony Bais, sekitar 50 orang bersenjata 26-27 Juni lalu telah
mendatangi Desa Sowampa. Mereka konon membakar 10 pondok dan
menebang pohon buah-buahan milik penduduk. Seperti orang yang
lagi piknik, si penyerbu yang datang malam hari itu mengukirkan
nama-nama "Indonesia" pada pohon. Untuk memberikan kesan
pelakunya pasukan Indonesia, mereka meninggalkan ransel, sisa
makanan, dan seragam aparat keamanan yang bertugas di
perbatasan. Kesan Indonesia, katanya, juga ditonjolkan dengan
beberapa bungkus rokok keretek yang dicecerkan di tempat itu
cuma 3,2 km dari Kecamatan Waris, ujung timur Irian Jaya.

Menyusul kejadian itu, Kamis minggu lalu Duta Besar Iman Soepomo
telah dipanggil ke Kemlu PNG. Ia telah menerima nota protes
diplomatik dari PNG yang disampaikan oleh sekretaris kemlu
Paulias Matane. Menurut Menlu Mochtar Kusumaatmadja, dalam
pertemuan pers, Jumat pekan lalu, Indonesia sedang mempelajari
secara saksama nota protes itu. "Kami telah menerima nota protes
yang kami anggap cukup serius," kata Mochtar. "Dan akan
mempelajarinya dahulu sebelum memberikan jawaban."

Dengan nada optimistis dan tersenyum lebar, Mochtar yakin bahwa
hubungan kedua negara tldak akan terguncang oleh peristiwa yang
sedang diteliti kebenarannya itu. Hubungan kedua negara selama
ini ia anggap baik, karena kedua negara bisa menahan diri. "Ada
kecurigaan, pelanggaran perbatasan itu dilakukan oleh pihak
ketiga yang ingin menimbulkan ketegangan dalam hubungan kedua
negara," ujar Mochtar.

Ada beberapa hal yang pantas disangsikan dalam data yang
diungkapkan pada nota protes Pemerintah PNG, yang disiarkan
kantor berita Reuter itu.

Seperti diungkapkan wakil gubernur Ir-Ja Sugiyono kepada TEMPO,
pelanggaran tapal batas seperti yang diberitakan itu tidak
mungkin dilakukan oleh tentara Indonesia. Pos terdekat dengan
Desa Sowampa adalah Kecamatan Waris, hanya dijaga 12 petugas
keamanan.

Bantahan lebih tegas keluar dari Pangab Jenderal L.B. Moerdani
di bandar udara Sentani, Jayapura, Sabtu lalu. "Saya membantah
keras pemberitaan pers asing yang menyatakan ada 50 tentara
Indonesia mcnyeberang perbatasan, dan melakukan pembakaran
sebuah kampung di wilayah PNG," katanya. Jenderal Benny, yang
baru saja mengunjungi beberapa pos terdepan di perbatasan Ir-Ja
dengan PNG, menambahkan, "Saya berani menyatakan, tidak ada satu
pun tentara Indonesia yang menyeberang ke PNG." Ia menduga,
pelaku pembakaran kampung itu adalah orang biasa yang memakai
baju tentara Indonesia. "Sebab," katanya sambil menunjuk
seragamnya, "baju seperti ini bisa dibikin di mana-mana."

Selama di Ir-Ja, Pangab dan rombongan juga mengunjungi Koramil
Nimburan Genyem, 125 km sebelah barat Jayapura. Ia sempat
bertemu tiga penduduk yang pernah ikut masuk hutan sebagai
Organisasi Papua Mcrdeka (OPM). Alkisah, mereka kabarnya sernpat
mengungsi ke wilayah PNG Juni 1983. Menurut Simon Waipon, salah
seorang bekas anggota mereka, bulan Desember lalu ia bersama 11
orang temannya kembali ke Ir-Ja. Mereka merasa tidak tenteram
bersembunyi di tempat pengungsian. Rombongan Pangab kemudian
mengunjungi Koramil dan Polsek Arso, beberapa kilometer dari
perbatasan di sebelah selatan Jayapura.

Agaknya, baik perlakuan terhadap pengungsi maupun bekas anggota
OPM yang sadar, selama ini cukup lumayan. Sekitar 2.000 dari
7.000 pengungsi yang memasuki wilayah PNG, yang kembali ke
Ir-Ja, menurut Pangab, sudah dikembalikan ke kampung asalnya.
"Tidak ada rencana untuk menghukum mereka," katanya. Kecuali
yang punya urusan dengan tindak kriminal.

Agak berbeda halnya dengan anggota ABRI yang menyeberang dan
bergabung dengan OPM. "Anggota ABRI kalau meninggalkan kesatuan
dalam dua kali 24 jam, dan tidak melaporkan diri, dianggap
desersi dan akan dihukum," katanya. Sekitar 70 anggota ABRI,
menurut sumber TEMPO, bulan Februari lalu telah meninggalkan
kesatuan dan kini berada di antara pengungsi di wilayah PNG atau
gerombolan OPM.

Perlakuan sedikit berbeda, agaknya, bagi 10 orang pegawai negeri
golongan II yang kini menyeberang dan bergabung dengan para
pengungsi. Mereka berasal dari unsur pemerintah daerah Ir-Ja.
Gubernur Ir-Ja Issac Hindom, selesai menemui Presiden Soeharto
di Cendana Selasa lalu, akan menerima mereka dengan tangan
terbuka. "Bagaimanapun, mereka masih anak-anak kita," katanya.

Agaknya, usaha OPM memancing popularitas belakangan memang cukup
meningkat, terutama setelah proses pemulangan pengungsi semakin
lancar. Wakil gubernur Ir-Ja Sugiyono, yang baru saja
mengunjungi pos-pos di sepanjang garis perbatasan selama dua
pekan akhir Juni lalu, paling tidak berkesimpulan demikian.
"Memang ada laporan meningkatnya kegiatan oknum OPM di sepanjang
perbatasan," katanya kepada Muchlis Dj. Tolomundu dari TEMPO,
Selasa lalu. Baik di wilayah Indonesia maupun PNG, oknum OPM
itu, menurut Sugiyono, mulai lagi menghasut dan mengobarkan
semangat "Papua Merdeka" dan kebencian kepada Indonesia. "Ini
dilakukan OPM untuk menutupi popularitas yang lagi turun akibat
pulangnya warga Indonesia yang dulu pernah mereka giring ke
seberang," katanya. "Itu sebabnya, saya berani memastikan, yang
membakar dan merusakkan kampung di wilayah PNG itu adalah oknum
dan antek OPM," tambah Sugiyono. Maksudnya? "Untuk mengacaukan
hubungan baik kedua negara," katanya, "jika memang pembakaran
dan perusakan kampung itu betul ada."

Kelihatannya, tudingan semakin terarah kepada OPM sebagai pelaku
perusakan dan pembakaran kampung Sowampa itu. Pangdam XVII
Cenderawasih, ketika dihubungi TEMPO Selasa malam, sependapat
dengan Sugiyono. "Anggota saya di perbatasan tidak sebodoh itu,"
kata Brigadir Jenderal R.K. Sembiring Meliala kepada TEMPO,
"sampai meninggalkan jejak segala, mencoretkan namanya di
pohon-pohon." Ia telah mengecek ke semua pos di perbatasan.
"Saya percaya ini ulah pihak ketiga," katanya. "Bisa saja mereka
menggunakan kesempatan ketika tentara kita sedang patroli di
Waris. Lantas OPM itu bikin acara di Sowampa."

Rabu, 26 Maret 2008

Ku lihat Ibu periwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlindang
Mas intan yang kau kenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa