Senin, 31 Maret 2008

OPRAH WINFREY


Bermodal keberanian “Menjadi Diri Sendiri”, Oprah menjadi presenter paling populer di Amerika dan menjadi wanita selebritis terkaya versi majalah Forbes, dengan kekayaan lebih dari US $ 1 Milyar. Copy acara “The Oprah Winfrey Show” telah diputar di hampir seluruh penjuru bumi ini.

TAHUKAH ANDA?
Lahir di Mississisipi dari pasangan Afro-Amerika dengan nama Oprah Gail Winfrey. Ayahnya mantan serdadu yang kemudian menjadi tukang cukur, sedang ibunya seorang pembantu rumah tangga. Karena keduanya berpisah maka Oprah kecil pun diasuh oleh neneknya di dilingkungan yang kumuh dan sangat miskin. Luarbiasanya, di usia 3 tahun Oprah telah dapat membaca Injil dengan keras.

“Membaca adalah gerai untuk mengenal dunia” katanya dalam suatu wawancaranya.

Pada usia 9 tahun, Oprah mengalami pelecehan sexual, dia diperkosa oleh saudara sepupu ibunya beserta teman-temannya dan terjadi berulang kali. Di usia 13 tahun Oprah harus menerima kenyataan hamil dan melahirkan, namun bayinya meninggal dua minggu setelah dilahirkan.

Setelah kejadian itu, Oprah lari ke rumah ayahnya di Nashville. Ayahnya mendidik dengan sangat keras dan disiplin tinggi. Dia diwajibkan membaca buku dan membuat ringkasannya setiap pekan. Walaupun tertekan berat, namun kelak disadari bahwa didikan keras inilah yang menjadikannya sebagai wanita yang tegar, percaya diri dan berdisiplin tinggi.

Prestasinya sebagai siswi teladan di SMA membawanya terpilih menjadi wakil siswi yang diundang ke Gedung Putih. Beasiswa pun di dapat saat memasuki jenjang perguruan tinggi. Oprah pernah memenangkan kontes kecantikan, dan saat itulah pertama kali dia menjadi sorotan publik..

Karirnya dimulai sebagai penyiar radio lokal saat di bangku SMA. Karir di dunia TV di bangun diusia 19 tahun. Dia menjadi wanita negro pertama dan termuda sebagai pembaca berita stasiun TV lokal tersebut. Oprah memulai debut talkshow TVnya dalam acara People Are Talking. Dan keputusannya untuk pindah ke Chicago lah yang akhirnya membawa Oprah ke puncak karirnya. The Oprah Winfrey Show menjadi acara talkshow dengan rating tertinggi berskala nasional yang pernah ada dalam sejarah pertelevisian di Amerika. Sungguh luar biasa!

Latar belakang kehidupannya yang miskin, rawan kejahatan dan diskriminatif mengusik hatinya untuk berupaya membantu sesama. Tayangan acaranya di telivisi selalu sarat dengan nilai kemanusiaan, moralitas dan pendidikan. Oprah sadar, bila dia bisa mengajak seluruh pemirsa telivisi, maka bersama, akan mudah mewujudkan segala impiannya demi membantu mereka yang tertindas.

Oprah juga dikenal dengan kedermawanannya. Berbagai yayasan telah disantuni, antara lain, rumah sakit dan lembaga riset penderita AIDs, berbagai sekolah, penderita ketergantungan, penderita cacat dan banyak lagi.

Dan yang terakhir, pada 2 januari 2007 lalu, Oprah menghadiri peresmian sekolah khusus anak-anak perempuan di kota Henley-on-Klip, di luar Johannesburg, Afrika selatan, yang didirikannya bersama dengan pemirsa acara televisinya. Oprah menyisihkan 20 juta pounsterling ( 1 pons kira2 rp. 17.000,- )atau 340 milyiar rupiah dari kekayaannya. “Dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak2 perempuan ini, kita akan memulai mengubah bangsa ini” ujarnya berharap.

Kisah Oprah Winfrey ialah kisah seorang anak manusia yang tidak mau meratapi nasib. Dia berjuang keras untuk keberhasilan hidupnya, dan dia berhasil. Dia punya mental baja dan mampu mengubah nasib, dari kehidupan nestapa menjadi manusia sukses yang punya karakter. Semangat perjuangannya pantas kita teladani!

NANCY MATTHEWS EDISON (1810-1871)

NANCY MATTHEWS EDISON (1810-1871)



suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. ibunya membaca kertas tersebut, " Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah."

sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, " anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia."

Tommy bertumbuh menjadi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar di dunia. dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.

tak banyak orang mengenal siapa Nancy Mattews, namun bila kita mendengar nama Edison, kita langsung tahu bahwa dialah penemu paling berpengaruh dalam sejarah. Thomas Alva Edison menjadi seorang penemu dengan 1.093 paten penemuan atas namanya. siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai" diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya!

ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya. Nancy yang memutuskan untuk menjadi guru pribadi bagi pendidikan Edison dirumah, telah menjadikan puteranya menjadi orang yang percaya bahwa dirinya berarti. Nancy yang memulihkan kepercayaan diri Edison, dan hal itu mungkin sangat berat baginya. namun ia tidak sekalipun membiarkan keterbatasan membuatnya berhenti.

cowok vs cewek

Singkatan KO = Kata Orang
------------------------------------------------------------------
1. Cowok angkat barang berat
KO : Udah biasa, biarin aja nggak usah dibantuin
Cewek angkat barang berat
KO : Kesian banget, bantuin yuk..emang
suaminya ke mana ?
------------------------------------------------------------------
2. Cowok pake baju cewek
KO : Idih mbak..mo ke mana ? suwit..suwit..(bencong maksudnya)
Cewek pake baju cowok
KO : Cool..boleh juga..eksentrik
------------------------------------------------------------------
3. Cowok nganterin ceweknya orang
KO : Kamu siapa ? jedag..jedug (digebukin ama cowoknya yg cewek)
Cewek dianterin ama cowok orang lain
KO : Tetep aja yg digebugin yg cowok ama
cowoknya yg cewek, bingungkan..he..he..
------------------------------------------------------------------
4. Cowok suka shopping
KO : Amit-amit kayak cewek aja..
Cewek suka shopping
KO : Udah biasa maklumlah cewek
------------------------------------------------------------------
5. Cowok muter-muter di mall
KO : Muter-muter terus, nggak beli-beli...kayak
setrikaan nggak panas
Cewek muter-muter di mall
KO : Maklumlah belon ada yg cocok untuk dibeli..
------------------------------------------------------------------
6. Cowok ditraktir cewek
KO : Pelit banget sih..dasar cowok nggak modal
Cewek ditraktir cowok
KO : Emang seharusnya gitu
------------------------------------------------------------------
7. Cowok cengeng ngeliat sinetron
KO : Dasar cengeng, gitu aja nangis...gengsi doongg !!
Cewek cengeng ngeliat sinetron
KO : Bener2 berperasaan halus..dia pasti terharu..
------------------------------------------------------------------
8. Cowok nggak kerja
KO : Nggak punya malu
Cewek nggak kerja
KO : Lebih mementingkan keluarga
------------------------------------------------------------------
9. Cowok suka marah-marah
KO : Kasar banget dia, moga aja ntar suamiku nggak gitu
Cewek suka marah-marah
KO : Pasti dia lagi datang bulan
------------------------------------------------------------------
10. Cowok menangis & ketawa dalam satu waktu
KO : Gila
Cewek menangis & ketawa dalam satu waktu
KO : Begitulah cewek
------------------------------------------------------------------
11. Cowok idiot
KO : Malu-maluin
Cewek idiot
KO : Dia kan cantik
------------------------------------------------------------------
12. Cowok ngabisin duit istrinya
KO : Pasti buat selingkuh
Cewek ngabisin duit suaminya
KO : Itulah tugas cewek
------------------------------------------------------------------

cowo ga pake baju
KO: mas, finalis L-men ya??

cewe ga pake baju
KO: asyikkkkkkkkk ada bispak.. yuk.. yak.yuk...
--------------------------
cowo tiap ari pulang malem
KO: ah nama nya juga cowo..

cewe tiap ari pulang malem
KO: gmn hari ini mbak, dapet pelanggan brp?
--------------------------
cewe cium cewe
KO: wow..

cowo cium cowo
KO: anjrittttttt najisssssss.....
--------------------------------
cewe keliatan 'itu' nya:
KO: inilah arti sesungguh nya dari seni

cowo keliatan 'itu' nya:
KO: mas, cacing nya di kandang-in
--------------------------------
cewe bawa mobil ngebut..
KO: ati-ati mbak.. kalo mobil nya lecet khan sayang.. apalagi kalo mbak yang lecet lebih sayang lagi..

cowo bawa mobil ngebut..
KO: anjeng, belagu banget si..!!!!!!!gue timpuk batu ntar..
---------------------------------
cewe cakep,tajir tapi bertahun2 ngejomblo
KO: tipe orang yang pemilih ya mbak?

cowo cakep,tajir tapi bertahun2 ngejomblo
KO: HOMO!!
-----------------------------
cewe cakep makan di warteg
KO: wow, cakep2 tapi ga matre,tipikal ce idaman

cowo cakep makan di warteg
KO: cakep2 sayang KERE..
------------------------------
cewe lagi diem tiba2 mendesah..
KO: knp mbak?ada yang bisa saya bantu?

cowo lagi diem tiba2 mendesah..
KO: dasar BANCI KALENG!!!!
---------------------------
cewe jalan nya lambat
KO: wow anggun..

cowo jalan nya lambat
KO: mas, lagi kena 'raja singa' yah??

Mengapa Pertempuran 10 November 1945 Terjadi?

Pada 9 Maret 1942, Pemerintah India-Belanda (Nederlands-Indiƫ) di Kalijati dekat
Subang, Jawa Barat, menandatangai dokumen Menyerah Tanpa Syarat (Unconditional
Surrender) kepada balatentara Dai Nippon. Letnan Jenderal Hein Ter Poorten,
Panglima Tertinggi tentara India-Belanda mewakili Gubernur Jenderal Jonkheer
Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer di pihak Belanda dan Jepang diwakili oleh
Jenderal Hitoshi Imamura, Panglima Tentara 16. Tentara Belanda secara sangat
pengecut menyerah kepada tentara Jepang dan telah menyerahkan seluruh wilayah,
termasuk rakyat jajahannya kepada penguasa baru yang tidak kalah kejam dan
rakusnya. Dengan demikian, Belanda telah kehilangan segala legitimasinya atas
wilayah bekas jajahannya.

Setelah Jepang menyerah –juga Tanpa Syarat- kepada sekutu pada 15 Agustus 1945,
tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Pernyataan
kemerdekaan ini jelas bukan merupakan suatu pemberontakan terhadap siapapun, baik
kepada Belanda, maupun kepada Jepang.

Sebagaimana diketahui, teks proklamasi disusun pada 16 Agustus 1945, malam hari,
di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda, dengan sepengetahuan Mayor Jenderal Otoshi
Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum Pemerintahan Militer Jepang di Jawa. Dan
setelah proklamasi kemerdekaan tersebut, Letnan Jenderal Moichiro Yamamoto,
Gunseikan (Kepala Pemerintahan) di Jakarta, juga tidak mengambil tindakan apapun
terhadap Republik Indonesia.

Sebaliknya, sejak saat itu, dan mencapai puncaknya pada bulan September 1945, di
seluruh Indonesia, rakyat mulai mengambil alih pemerintahan sipil dan melucuti
tentara Jepang, bahkan di beberapa daerah merampas senjata-senjata dari Jepang
melalui pertempuran sengit, yang menimbulkan korban besar di kedua belah pihak,
seperti halnya yang terjadi di Surabaya.

Senjata yang direbut dari tentara Jepang di Surabaya dan sekitarnya sedemikian
banyak, dan dapat mempersenjatai sekitar 20.000 – 30.000 orang, dari mulai pistol,
sampai senjata berat seperti meriam dan tank. Bahkan dapat mengirim senapan
sebanyak 4 gerbong kereta api ke Jakarta dan 2 gerbong ke Yogyakarta.

Untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan interniran Eropa dan memulihkan
keamanan di wilayah bekas pendudukan Jepang di Asia Tenggara, termasuk Indonesia,
tentara Sekutu (Allied Forces) menugaskan Vice Admiral Lord Louis Mountbatten,
Panglima Tertinggi Tentara Sekutu di Asia Tenggara (Supreme Commander South East
Asia Command).

Untuk tugas ini, Mountbatten mengerahkan 3 Divisi (British-Indian Divisions) dan
dibantu oleh 2 Divisi Australia di bawah Jenderal Morsehead.

Namun, selain tugas dari Allied Forces tersebut, ada agenda tersembunyi yang
dilakukan oleh tentara Inggris dan Australia, yaitu membantu Belanda memperoleh
kembali jajahannya, sesuai dengan perjanjian antara Inggris dan Belanda di
Chequers, dekat London, pada 24 Agustus 1945, yang dinamakan Civil Affairs
Agreement, di mana disepakati, bahwa tentara Inggris akan membersihkan kekuatan
bersenjata Republik Indonesia, dan menyerahkan daerah yang telah “dibersihkan”
kepada Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Karena berbagai kendala dan keterbatasan yang mereka miliki, kapal perang Inggris
pertama, HMS Cumberland, baru tiba tanggal 15 September 1945 di Jakarta. Ikut
dengan kapal ini adalah Dr. Charles Olke van der Plas, mantan Gubernur Jawa Timur
zaman penjajahan India-Belanda.

Sedangkan di Surabaya, pasukan Inggris, Brigade 49 dari Divisi 23, baru tiba pada
25 Oktober 1945, lebih dari 2 bulan setelah pernyataan kemerdekaan bangsa
Indonesia. Sementara itu di Surabaya bangsa Indonesia telah mengambil alih, bukan
saja pemerintahan sipil, melainkan juga di bidang kemiliteran dan kepolisian.
Seluruh tentara Jepang telah dilucuti dan diinternir oleh tentara dan
laskar-laskar pemuda Indonesia.

Brigade 49 dari 23rd British-Indian Division berkekuatan sekitar 5.000 personal di
bawah pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby, segera
bermaksud melucuti senjata yang dimiliki rakyat di Surabaya dan sekitarnya, namun
sudah tentu mendapat tentangan keras dari para pemimpin Republik Indonesia di
Surabaya.

Setelah melihat kekuatan yang dihadapinya, pada 26 Oktober 1945, Mallaby mengalah
dan menandatangani persetujuan dengan Gubernur Jawa Timur, Suryo, bahwa yang
dilucuti hanya tentara Jepang, dan tentara Republik Indonesia tidak dilucuti.

Namun terjadi kesalahan komunikasi antara pimpinan tertinggi tentara Inggris. Di
Jakarta, mereka memutuskan, bahwa seluruh persenjataan yang berada di tangan orang
Indonesia, harus diserahkan kepada tentara sekutu, juga di Surabaya. Pada 27
Oktober 1945 pukul 11.00, satu pesawat Dakota yang langsung datang dari Jakarta,
menyebarkan pamflet di aras Surabaya dan sekitarnya, yang berisi seruan, agar
seluruh senjata harus diserahkan kepada tentara sekutu dalam waktu 2 x 24 jam, dan
setelah itu “ BARANG SIAPA YANG DIJUMPAI DI JALAN MEMBAWA SENJATA,
AKAN DITEMBAK DITEMPAT.”

Dikabarkan, bahwa Brigadir Jenderal Mallaby sendiri terkejut dengan isi pamflet
tersebut, namun sebagai seorang serdadu, harus melaksanakan perintah atasan.
Tentara Inggris mulai melakukan razzia senjata. Hal ini tentu membuat gusar
pimpinan Republik Indonesia di Surabaya, karena mereka menilai, bahwa Inggris
melanggar kesepakatan yang ditandatangani satu hari sebelumnya, pada 26 Oktober
1945.

Pada sore hari tanggal 27 Oktober 1945, secara kilat dilakukan rapat pimpinan
militer tertinggi di Surabaya. Pertimbangan yang diambil adalah, apabila mereka
menyerahkan senjata kepada sekutu, tentara Republik Indonesia akan menjadi macan
ompong, alias tidak mempunyai kekuatan untuk mempertahan kemerdekaan dan
kedaulatan, sedangkan apabila tidak menyerahkan senjata, mereka akan ditembak di
tempat. Selain itu, sudah sejak awal pimpinan Republik mencurigai, bahwa tentara
Inggris dan Australia membantu Belanda untuk menjajah kembali Indonesia, yang
kemudian dugaan ini ternyata benar.

Dalam pertimbangan yang dilakukan, dikemukakan, bahwa pihak Republik mengetahui
berapa kekuatan tentara Inggris, dan di mana mereka berada, yaitu di 8 pos
pertahanan yang tersebar di Surabaya, sedangkan pihak Inggris tidak mengetahui
berapa kekuatan bersenjata Republik.

Dengan berpatokan pada gagasan Jenderal Prusia, Carl von Clausewitz, bahwa
“Angriff ist die beste Verteidigung” (Menyerang adalah pertahanan yang terbaik),
maka diputuskan untuk: MENYERANG TENTARA INGGRIS. Malam itu juga disebarkan
keseluruh pasukan serta laskar-laskar pemuda di Surabaya dan sekitarnya (Sidoarjo,
Gresik, Mojokerto dsb.) mengenai keputusan tersebut.

Dan malam itu juga, seluruh kekuatan rakyat bersenjata yang ada di sekitar
Surabaya, berdatangan untuk ikut ambil bagian dalam penyerangan tersebut.

Pagi hari tanggal 28 Oktober 1945 mulai pukul 04.30, serangan dilakukan terhadap 8
pos pertahanan Inggris di Surabaya.Tercatat sekitar 60 pasukan yang ikut ambil
bagian dalam pertempuran bulan Oktober di Surabaya, a.l. TKR Sidoarjo, Pasukan
Sadeli Sastrawijaya dari Bandung, Pasukan TKR Mojokerto, TKR Laut, TKR Udara,
PasukanMagenda dari Bondowoso, Pasukan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi),
Pasukan Kalimantan, Pasukan Sriwijaya (yang seluruhnya terdiri pemuda-pemuda asal
Sumatera Utara dan Aceh, mantan pasukan Gyugun yang mempunyai pengalaman tempur
melawan tentara sekutu di Morotai), para Kiyai dari Banten dll.. Boleh dikatakan
seluruh suku bangsa Indonesia diwakili oleh para pemudanya di Surabaya dalam
pertempuran mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus
1945. Juga pemuda-pemuda Ambon dan Papua banyak yang bertempur di pihak Republik,
dan bahkan ada juga yang dari pulau Rote.

Bila dihitung, tepat TUJUHBELAS TAHUN setelah Sumpah Pemuda di Jakarta pada 28
Oktober 1928, pemuda Indonesia di Surabaya mewujudkan semangat tersebut dalam
bentuk fisik yang sangat heroik. Apakah hal ini hanya suatu kebetulan? Ataukah
memang ini suatu bentuk predestinasi (telah ditentukan sebelumnya)?

Selain sekitar 20.000 – 30.000 rakyat yang bersenjata, ikut mengambil bagian dalam
pertempuran tersebut sekitar 100.000 pemuda yang menyerbu hanya dengan clurit,
bambu runcing, tombak dll. Inilah awalnya bonek (bondo nekat-modal nekat) yang
sangat positif bagi perjuangan bangsa Indonesia.

Tentara Inggris yang menduga hanya akan melakukan tugas adminstratif, tidak siap
dengan logistik dan paramedis untuk suatu petempuran. Setelah digempur satu hari
penuh hingga malam hari, pimpinan tentara Inggris menyadari, bahwa mereka tidak
kuat menahan gempuran rakyat Indonesia di Surabaya. Mereka mengirim berita ke
Jakarta kepada Panglima tertinggi Tentara Inggris, Letnan Jenderal Sir Philip
Christison, untuk meminta bantuan Presiden Sukarno. Seorang perwira Inggris,
Kolonel A.J.F. Doulton: ”The Heroic resistance of the British troops could only
end in the extermination of the 49th Brigade, unless somebody could quell the
passion of the mob. There was no such person in Surabaya and all hope rested on
the influence of Sukarno.”

Malam itu juga, Presiden Sukarno yang sudah tidur, dibangunkan dan diminta untuk
datang ke Surabaya untuk menolong tentara Inggris yang berada di ambang kepunahan.

Sementara itu, pertempuran di Surabaya berlangsung terus dengan sengitnya. Blokade
total dilakukan atas pos-pos pertahanan Inggris. Saluran air dan listrik
dimatikan. Bantuan logistik yang didrop melalui udara oleh pesawat terbang Inggris
tidak tepat jatuh di pos tentara Ingris, dan jatuh ketangan pemuda Indonesia.
Akhirnya, pada 29 Oktober 1945 pagi hari, di dua tempat, antara lain di kompleks
Darmo, yang menjadi satu pos pertahanan Inggris, tentara Inggris mengibarkan
BENDERA PUTIH: MENYERAH. Kolonel dr. Wiliater Hutagalung menerima Kapten Flower
yang berkebangsaan Australia untuk berunding.

Dapat dibayangkan, bagaimana malunya tentara Inggris, sebagai salah satu PEMENANG
PERANG DUNIA II, setelah digempur satu hari-satu malam oleh rakyat Indonesia di
Surabaya, dipaksa mengibarkan BENDERA PUTIH.

Presiden Sukarno bersama Wakil Presiden Hatta dan Menteri Penrangan Amir
Syarifuddin Harahap tiba tanggal 29 Oktober 1945 siang hari, dan segera melakukan
perundingan dengan Brigadir Jenderal Mallaby. Pada hari itu ditandatangani
persetujuan gencatan senjata yang dinamakan:

“Armistic Agreement regarding the Surabaya Incident; a provisional agreement
between President Soekarno of the Republic Indonesia and Brigadier Mallaby,
concluded on the 29th October 1945.”

Dengan demikian, walau pun karena kepepet, tentara Inggris terpaksa mengakui
Sukarno sebagai THE PRESIDENT OF THE REPUBLIC INDONESIA.

Keesokan harinya, pada 30 Oktober 1945 siang hari, Presiden sukarno menandatangani
persetujuan dengan Panglima Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn.
Setelah itu, mereka segera kembali ke Jakarta.

Sore hari, dalam rangka penyebarluasan kesepakatan Soekarno-Hawthorn, timbul
insiden tembak-menembak di pos pertahanan Ingris di Gedung Internatio, dekat
Jembatan Merah. Insiden itu dipicu oleh tembakan yang dimulai oleh tentara
Inggris, sebagaimana diakui oleh komandan Kompi D, Mayor Venu K. Gopal, yang
bertahan di Gedung Internatio. Pengakuan itu ditulis pada 8 Agustus 1974 kepada
penulis Australia, J.G.A. Parrot, yang menulis buku “Who killed Brigadier
Mallaby?”

Dalam tembak-menembak tersebut (cross fire), Mallaby, komandan Brigade 49,
kemudian ditemukan tewas. Pihak Inggris menyalahkan Indonesia atas tewasnya
Mallaby, namun dalam rekonstruksi, kemungkinan besar Mallaby tewas karena granat
yang dilemparkan oleh Kapten R.C. Smith. Pelemparan granat yang mengakibatkan
terbakarnya mobil yang ditumpangi Mallaby diakui oleh Smith dalam surat-suratnya
kepada J.G.A. Parrot, a.l. pada 23 November 1973 dan 20 Februari 1974.

Tuduhan Panglima tertinggi Tentara Inggris, Letnan Jenderal Christison dan
Panglima Divisi 23 Mayor Jenderal Mansergh tanggal 31 Oktober dan 9 November 1945
telah dibantah oleh Tom Driberg, anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh,
sebagaimana disampaikannya dalam sidang parlemen Inggris tanggal 20 Februari 1946,
bedasarkan keterangan yang diperolehnya dari Kapten Shaw, mantan ajudan Brigadir
Jenderal Mallaby.

Namun sejarah mencatat, bahwa tentara Inggris tetap melancarkan agresi militer
mereka, terbesar setelah Perang Dunia II, dengan mengerahkan sekitar 30.000
tentara, a.l. 20.000 dari Divisi 5, yang ikut mengalahkan pasukan Jerman di bawah
Marsekal Erwin Rommel yang legendaris di El alamein, Mesir, dan dengan
persenjataan termutakhir yang mereka miliki.

Akibatnya: Lebih dari 20.000 rakyat Surabaya –sebagian besar adalah sipil,
termasuk wanita dan anak-anak- tewas dalam agresi militer tersebut, dan hampir
seluruh kota Surabaya hancur, terutama bagian selatan.

Sementara itu, di wilayah timuer Indonesia, tentara Australia “membersihkan”
kekuatan bersenjata Republik Indonesia, dan setelah dibersihkan, pada 13 Juli
1946, secara resmi seluruh wilayah Indonesia Timur diserahkan kepada Netherlands
Indies Civil Administration (NICA), dan Belanda tidak membuang-buang waktu. Pada
16 – 22 Juli 1946, mereka menggelar yang dinamakan “Konferensi Malino”, di Malino.
Sulawesi Selatan, yang menjadi cikal bakal pembentukan Negara Indonesia Timur dan
Negara-Negara Boneka lain bentukan Belanda untuk menghancurkan Republik Indonesia.

Demikian ringkasan kilas balik sejarah, untuk memberikan informasi mengenai
peristiwa heroik PEMUDA INDONESIA PADA 28 OKTOBER 1945 DI SURABAYA, yang juga
patut mendapat perhatian dan penghargaan.

(Ringkasan ini dikutip dari : “10 November 1945. Mengapa Inggris Membom Surabaya?”
tulisan Batara R. Hutagalung. Penerbit: Millenium Publisher. )


source : http://befo.blogs.friendster.com/fery/2007/12/mengapa_pertemp.html

puisi ws rendra

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972

...BAHWA KITA DITANTANG SERATUS DEWA.

Operasi Linud Terbesar di Dili

Hanya sekitar tujuh jam, Minggu 7 Desember 1975, Kota Dili dikuasai lewat operasi lintas udara (Linud) terbesar dalam sejarah ABRI. Grup-1 Kopassandha dan Brigade-18/Linud Kostrad yang sebagian besar dari Batalion-502/Raiders Jawa Timur itu, diterjunkan dari sembilan pesawat angkut C-130B Hercules TNI AU.

Menjelang jam 05.00 WITA, BTP-5 (Batalion Tim Pendarat)/Infanteri Marinir, mengendap-endap di pantai Kampung Alor. Dengan dukungan tembakan kanon kapal perang TNI AL, BTP-5 mengawali rencana besar operasi perebutan Kota Dili, 7 Desember 1975. Operasi ini merupakan kelanjutan "Operasi Komodo" yang digelar Bakin awal 1975, untuk mengantisipasi makin keruhnya peta politik di Timor Loro Sae (Timor Negeri Matahari Terbit).

Euphoria politik yang berkepanjangan ini, memaksa Indonesia meningkatkan operasi menjadi operasi Sandhi Yudha (combat inteligence) terbatas dengan sandi "Operasi Flamboyan". Operasi yang dipimpin Kolonel Dading Kalbuadi dengan inti pasukan pemukul operasi Grup-1 Para Komando/Kopassandha yang menempatkan Detasemen Tempur-2 (Denpur) di perbatasan sejak Oktober 1975 inilah, yang kemudian berubah ujud menjadi "Operasi Seroja".

Perebutan Dili yang didahului operasi ampibi ini, diputuskan Menhankam/Pangab Jenderal TNI M Panggabean, 4 Desember di Kupang. Operasinya sendiri dilakukan melalui pertimbangan dan analisa lapangan setelah melihat pergerakan pasukan Fretilin. Bukan sepihak, ketegasan sikap Indonesia juga didasari keinginan rakyat Timor Portugal berintegrasi dengan Indonesia. Sikap yang diwakili empat partai Apodeti (Associacao Popular Democratica de Timor), UDT (Uniao Democratica de Timorense), KOTA (Klibur Oan Timor Aswain), dan Trabalista itu dikenal dengan Deklarasi Balibo, 30 Nopember 1975. Sikap yang sekaligus menandingi deklarasi berdirinya Republik Demokrasi Timor Timur secara sepihak oleh partai Fretilin (Fronte Revolucionaria de Timor Leste Independente), dua hari sebelumnya.

Sebelum perebutan Dili, Fretilin sudah terlibat baku tembak dengan pasukan ABRI dalam perebutan Benteng Batugade (7 Oktober). Alasan berikutnya, meningkatnya pelanggaran perbatasan diselingi perampokkan ternak oleh Fretilin di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Pelanggaran yang meningkat sejak Juni 1975 itu, sering tertangkap basah oleh ABRI hingga menimbulkan tembak-menembak. Korban mulai berjatuhan.

Lebih seru lagi, sejak 1 Oktober, Komando Tugas Gabungan (Kogasgab) Operasi Seroja mendeteksi keberadaan dua kapal perang kelas frigat AL Portugal di sekitar Timor. Celakanya, 7 Desember pagi, kedua kapal tersebut justru merapat di lepas pantai Dili. "Mereka buang jangkar lebih dekat ke pulau Atauro, karena di sana bercokol pemerintahan pelarian Portugal dari Timor," kata Hendro Subroto, wartawan TVRI yang meliput saat itu. Entah kebetulan, di selat yang memisahkan pulau Atauro dan pulau Alor ini, tiga formasi arrow Hercules satu formasi tiga pesawat akan membuat manuver abeam (posisi pesawat 90 derajat terhadap suatu check point di sisi kiri atau kanan pesawat).

Gunship

Menjelang berakhirnya tanggal 6 Desember 1975, di Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur, di luar kebiasaan, ratusan pasukan berperalatan lengkap berseliweran. Sebagian menyandang parasut T-10 buatan Amerika, separuh lagi senapan serbu AK-47 buatan Soviet. Di apron, sembilan pesawat angkut berat C-130B Hercules Skadron 31, siap terbang. Beberapa air crew menyempatkan melakukan pemeriksaan akhir sebelum mengudara.

Kesembilan pesawat ini tiba di Iswahyudi siang itu. Letkol Pnb. Suakadirul menuturkan, perintah berangkat ke Iswahyudi diterimanya Jumat, 5 Desember, dari Kol. Pnb. Susetyo, Komandan Satuan Tugas Udara Operasi Seroja. Isi perintah: usai shalat Jumat, seluruh anggota Skadron 31 kembali ke tempat masing-masing. Tidak seorangpun dibenarkan pulang. "Saya belum tahu kemana arah perintah itu. Tapi saya bisa menduga dengan melihat perkembangan situasi di lapangan," ingat Marsda (Pur) Suakadirul.

Dalam perintah rahasianya, Komandan Skadron 31 diminta menyiapkan 12 pesawat untuk mengangkut satu batalion paratroops. "Jadi saya harus menyiapkan 12 set crew. Pilot, co-pilot, navigator, engineer, radio telegrafis, load master dan pembantunya. Jumlahnya sekitar 120 orang," katanya. Kebetulan dua pesawatnya dalam perawatan, hanya 10 pesawat bisa disiapkan. Dalam jajaran penerbangnya, Suakadirul sengaja menempatkan dua penerbang senior Letkol Pnb. Siboen dan Kol.Pnb. Suhardjo. "Sebagai panutan, lah."

Maka, esok harinya, sembilan Hercules bertolak dari Halim Perdanakusuma menuju Iswahyudi. Tiga diantaranya mengangkut Kopassandha. Baru di Madiun lah, sorenya, Suakadirul mendapat kejelasan bahwa akan dilakukan operasi pen-drop-an pasukan di Dili. Untuk itu, armadanya akan mengangkut satu batalion pasukan payung. "Satu pesawat memuat 100 orang," jelas Hendro, wartawan yang meliput. Pada hari yang sama di Timor, Batalion-403/Raiders Kostrad tiba di lepas pantai Tailaco dengan LST KRI Teluk Bone. Sorenya, disusul BTP-5/Infantri Brigade-1/Pasrat Marinir masuk LST untuk persiapan pendaratan ampibi di Dili jam 05.00 esok harinya.

Tanggal 6 Desember, jam 23.50, flight leader Letkol Pnb. Suakadirul, memulai operasi dengan menerbangkan Hercules T-1308. Berturut-turut, dipekatnya malam, kedelapan pesawat meninggalkan landasan pacu Lanud Iswahyudi. Pesawat bergerak ke arah Ponorogo, terus heading ke timur sambil menyusun formasi. Dalam penerbangan antara Ponorogo dan Denpasar, sembilan pesawat mulai membentuk formasi arrow dengan panduan exhaust dan lampu take off pesawat.

Sifat operasi pendadakan. Formasi sembilan Hercules ini diberi sandi Rajawali Flight. Untuk menjaga kerahasiaan, selama penerbangan diterapkan radio silence. Komunikasi antar penerbang dilakukan menggunakan morse. Pesawat terus naik hingga mencapai ketinggian 22.000 kaki dengan kecepatan 280 knot. Di utara Denpasar, leader mengirim morse ke Air Traffic Control (ATC) Bandara Ngurah Rai: Rajawali abeam Denpasar. Lewat Denpasar, Suakadirul kontak Lanud Penfui, Kupang, untuk menginformasikan posisi Rajawali flight pada beberapa check point ke Markas Komando Operasi Seroja di kapal tender kapal selam KRI Ratulangi.

T-1308 yang paling lambat terbangnya, dipilih sebagai flight leader agar pesawat lain sebagai wingman mudah menyesuaikan dalam terbang formasi. Bertindak sebagai wingman, Letkol Pnb. Sudjiharsono (kiri) dan Kol.Pnb.Suhardjo (kanan). Formasi arrow kedua, dua mil dibelakangnya, diterbangkan Letkol Pnb.Siboen (leader), Letkol Pnb.O H Wello (kiri), dan Letkol Pnb.Sukandar (kanan). Arrow ketiga dipimpin Letkol Pnb.Masulili dan Mayor Pnb.Achlid Muchlas/Mayor Pnb.Sudiyarso (kiri) serta Mayor Pnb.Murdowo (kanan).

Suakadirul menggambarkan, suasana begitu senyap di pesawat. Desah nafas mereka mengeras, maklum, operasi Linud pertama di Dili dan terbesar bagi Hercules sepanjang sejarah ABRI. Menunggu tentu membosankan. Apalagi tujuan medan perang. Perhitungannya, penerbangan ke Dili memakan waktu 4 jam 50 menit. Sementara tiap pesawat membawa 42.000 pound avtur JP-4, yang cukup untuk penerbangan 10 jam 30 menit.

Garis besarnya, operasi penerjunan untuk merebut Kota Dili dari Fretilin dilakukan dalam tiga sortie. Sortie pertama dengan sasaran Dili, akan diterjunkan Grup-1 Kopassandha dipimpin Letkol (Inf) Soegito dan Batalion Infantri Linud 501 di bawah komando Letkol (Inf) Matrodji. Sortie kedua, dari Lanud Penfui, Kupang, menyusul Batalion 502 di bawah Mayor (Inf) Warsito dengan target Komoro. Khusus Baret Merah, dalam operasi ini dipelopori Denpur-1, disebut juga Nanggala-5, di bawah komandan Mayor (Inf) Atang Sutisna. Sortie ketiga, direncanakan juga dari Kupang.

Letkol Soegito membagi Nanggala-5 ke dalam tiga tim. Tim-A dipimpin Mayor Atang Sutisna, melaksanakan perebutan kantor gubernur. Tim-B dipimpin Lettu Atang Sanjaya, merebut pelabuhan Dili. Sedang Tim-C dipimpin Lettu Luhut Panjaitan, merebut lapangan terbang Dili. Ketiga tim disebar ke dalam empat Hercules terdepan, dengan perhitungan jika salah satu pesawat mengalami gangguan atau tertembak, tim bisa berharap pada pesawat berikutnya. Artinya, operasi harus tetap jalan.

Pasukan sortie kedua dan ketiga yang akan diberangkatkan dari Kupang, berasal dari Jakarta dan Jawa Timur. Karena terbatasnya kemampuan TNI AU dalam mendukung angkutan udara, pengiriman pasukan ke Kupang diputuskan menggunakan pesawat Garuda Indonesian Airways. Garuda menjembatani pengiriman pasukan dari Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi menggunakan 17 F-28 dan empat F-27 Friendship. Operasi jembatan udara ini dipimpin langsung direktur utamanya Wiweko Supono.

Untuk mempertahankan pendadakan, tentu tidak sekadar mengandalkan pemahaman topografi. Serangan udara juga berperan. Perebutan Irian Barat memperoleh keunggulan di udara, karena didukung pesawat tempur. Pesawat pembom dan angkutnya, juga mendapat close air support. Sebaliknya, untuk Dili, bantuan tembakan udara (BTU) justru masalah. Ini disebabkan seluruh pesawat P-51 Mustang Skadron 3/Tempur Taktis dinyatakan grounded, setelah kecelakaan beruntun menewaskan, diantaranya, Mayor Pnb Sriyono. Sedangkan pesawat latih lanjut T-33 T-Bird (versi militernya Shooting Star) dan F-86 Sabre bantuan Australia, belum dipersenjatai. Dari tujuh bomber B-26 Invader Skadron 2/Pembom Taktis, hanya dua yang serviceable. Penerbang pesawat peninggalan PD II inipun, hanya dua orang yang masih berkualifikasi. Yaitu Letkol Pnb Danendra (Danlanud Penfui) dan Mayor Pnb Soemarsono, yang ditarik kembali dari Pelita Air Service.

Pentingnya BTU sangat disadari Amerika ketika di palagan Vietnam. Tidak heran kemudian, Jenderal USAF John P McConnel mengusulkan modifikasi C-47 menjadi gunship untuk mendukung bantuan tembakan udara. Dakota itu kemudian populer dengan sebutan Gooney Bird. Sebutannya pun diganti menjadi AC-47 mulanya FC-47. Pesawat yang dilengkapi tiga senapan mesin kaliber 7,62 mm di sisi, selama perang Vietnam digunakan USAF sebanyak 20 pesawat di samping AC-130 Spectre Gunship.

Terinspirasi oleh kepopuleran gunship ini, dua pesawat C-47 Dakota Skadron 2/Angkut Ringan TNI AU, dibedah menjadi AC-47 gunship. Mekanik dan teknisi Depopesbang 10 Bandung, menjejali dengan tiga senapan mesin kaliber 0,50 mm. Untuk mengenal medan, ujicoba penembakan dilakukan di sepanjang perbatasan Timor Portugal bulan September 1975. Jadilah dua B-26 dan dua AC-47, direncanakan memberikan BTU dalam mendukung operasi Linud 7 Desember.

Go!

Pesawat terus bergerak dalam kesunyian. Sesekali, bunyi morse memecah keheningan. Di timur Flores, Rajawali flight perlahan-lahan turun ke 5.000 kaki sambil menyusun formasi penerjunan. Persis di atas pulau Alor pada ketinggian 7.000 kaki, lampu merah dekat pintu menyala dan bel berdering pendek tiga kali sebagai tanda pasukan mulai berdiri untuk persiapan.

Waktu penerjunan menjelang lampu hijau tinggal 10 menit lagi. Anggota Kopassandha dan Brigade-18/Linud Kostrad, mencantolkan pengait pada ujung strop di kabel baja yang merentang di kabin. Dengan sigap, posisi ransel, senjata, dan perlengkapan perorangan lainnya dibenahi. Hampir tidak ada suara. Semua membisu dalam kesibukkan masing-masing.

Abeam Atauro, pesawat sudah di 5.000 kaki. Karena radar pesawat digunakan untuk cuaca, Suakadirul dibuat kaget ketika melongokkan kepalanya melihat dua kapal frigat Portugis Joao Roby dan Alfonso de Albuquerque lego jangkar di lepas pantai Atauro. "Tidak ada informasi dua kapal frigat dilengkapi radar dan sonar, buang sauh di Atauro," protes Suakadirul. Aneh. Padahal, KRI Ratulangi sudah berpapasan dengan Joao Roby di perairan Timor, 23 Oktober. Hebat lagi, sejak 1 Oktober keberadaan kapal yang memiliki 3 kanon 100 mm ini sebenarnya sudah diketahui. "Saya tidak mengerti soal itu," jawab Suakadirul.

Pintu kiri-kanan pesawat mulai dibuka. Kecepatan dikurangi hingga 110 knot. "Saya bilang kita 5.000 kaki. Lampu kuning menyala, terus depressurized," cerita Suakadirul. Waktu tersisa menuju dropping zone (DZ) tinggal empat menit. Perlahan, jarak horizontal antar pesawat di perpendek hingga 300 kaki (sekitar 100 meter). Demikian pula jarak vertikal antar pesawat, hanya selisih 50 kaki. "Saya berada pada ketinggian 900 kaki," ucap Suakadirul. Jadi kalau dihitung hingga pesawat terakhir, ketinggiannya 1.250 kaki.

Mendekati pantai Dili, dengan referensi Tanjung Fatukama, Rajawali flight belok kanan langsung menuju jantung kota Dili. Agar pesawat mampu terbang pada kecepatan 110 knot, menurut Suakadirul, flap diturunkan sebesar 50 persen. Bagi Suakadirul, Dili bukan hal baru. Tahun 1970, lulusan Chekoslowakia ini telah mondar-mandir dengan Dakota milik Zamrud rute Denpasar, Rembiga, Sumbawa, Kupang dan Dili untuk RON (remain over night). Sementara, navigator buka suara, "2 menit ahead."

Sembilan pesawat muncul dari balik perbukitan tanpa lindungan (escort) B-26 dan AC-47. Bel berdering panjang sekitar lima detik setelah Hercules T-1308 terbang melintas di atas sisi barat perkampungan nelayan. Jam di tangan Suakadirul menunjukkan pukul 05.45, bertepatan perubahan lampu kuning menjadi lampu hijau. "Kerongkongan saya mendadak kering," ujar Suakadirul.

Hanya dalam hitungan detik menjelang jam 05.45, jumping master berteriak. "Penerjun siap?" Dilanjutkannya dengan perintah, "Sedia di pintu!" Sekian detik kemudian, jumping master berteriak lebih keras. "Go!"

Mengambil arah 260 derajat atau hampir ke barat pada garis sejajar dengan jalan Dr. Antonio de Carvalho di tengah Kota Dili, anggota pertama melompat dari Hercules T-1308. Ratusan kemudian, berbaur dari Kopassandha dan Kostrad, melompat dari tiap pesawat. Dalam empat hitungan, parasut T-10 berwarna hijau zaitun terkembang dikeremangan pagi di atas Dili. Karena komunikasi segitiga Fretilin, Dili-Atauro-kapal frigat sudah terjalin rapi, penerjunan sortie pertama kehilangan faktor pendadakan. Pasukan diberondong secara sporadis dari bawah. Peluru api (tracer) yang dilepas Fretilin, bagai kunang-kunang memenuhi langit.

Pasukan Linud yang masih mengambang, balik menembak. Maka, pagi itu, terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Linud dan gerombolan Fretilin. Entah digunakan pada saat D-day, beberapa bulan sebelumnya menurut Hendro, 15.000 pucuk senjata peninggalan Portugal dibagi-bagikan Fretilin untuk mempersenjatai rakyat. Sesungguhnya juga, Fretilin telah siaga begitu listrik dipadamkan jam 03.00 bertepatan pendaratan marinir disertai tembakan kanon dari kapal TNI AL. Dan radar Plessey dua kapal frigat Portugal pun, tentu tidak tidur.

Dapat dibayangkan perjuangan hidup-mati pasukan Linud. Tidak semua mendarat dengan selamat. Ada yang kandas di atap rumah, tersangkut di pohon atau di pagar. Yang mendarat di lapangan terbuka di tengah kota, "terpaksa" menjadi sasaran empuk. Belum sempat berbenah, mereka langsung terlibat baku tembak dengan Baret Coklat mantan Tropaz, serdadu Portugal. Sama sekali tidak ada waktu untuk konsolidasi. Tiga tim yang ditunjuk, berusaha keras menyebar memulai operasi pembebasan kantor gubernur, pelabuhan, dan lapangan terbang. Tembak-menembak bergemuruh di mana-mana. Walaupun sudah mengetahui kedatangan pasukan Indonesia, Fretilin tetap kocar-kacir. Jika mau bersabar, tentu Indonesia bisa mengambil keuntungan dengan perencanaan matang karena Fretilin tidak pernah memprediksi Indonesia akan menyerbu dari udara. Perkiraannya serbuan dari perbatasan.

Karena saat penerjunan pesawat dihujani tembakkan ditambah obstacle bukit setinggi 1.500 kaki di ujung runway Dili, Rajawali flight harus belok ke kanan arah pantai untuk terbang ke Kupang. Karena juga DZ cukup pendek dan interval penerjunan terlalu lama waktunya cuma satu menit 79 orang dari 720 pasukan para batal terjun, termasuk komandan Tim-C Lettu Luhut Panjaitan.

Tidak hanya mengenai pasukan, tembakkan dari bawah juga menghantam empat Hercules. Bahkan, load master T-1312 yang diterbangkan Letkol Wello, Pelda Wardjijo, tewas diterjang peluru yang menembus badan pesawat. Pesawat Suakadirul juga tak luput. Peluru merusak navigation compass dan auxiliary hydraulic pump. Peluru juga menembus kaca kokpit di sisi kiri Suakadirul. Secangkir kopi yang ditaruhnya, terlontar ke depan kokpit dan membasahi dahi sang captain. Crew sempat menduga captain-nya tertembak. Apalagi setelah melihat cairan kental meleleh di kepalanya. "Ternyata cuma kopi."

Dua pesawat Hercules lainnya yang diterbangi Letkol Pnb. Sudji Harsono dan Kol.Pnb. Sukandar, turut tertembak. Kesembilan pesawat plus 79 anggota yang batal terjun, meneruskan penerbangan ke Kupang selama 48 menit. Dari Kupang, setelah memeriksa kondisi pesawat yang tertembak, sortie kedua dilanjutkan menggunakan lima Hercules. Komoro ditentukan sebagai DZ. Karena empat pesawat tidak laik terbang, setengah kekuatan Batalion 502, tidak terangkut. Jam 07.45, sortie kedua diterjunkan di Komoro dengan aman karena Fretilin telah dipukul mundur ke perbukitan di selatan Dili. Suakadirul mengganti pesawatnya dengan T-1305.

Salah tembak

Sortie kedua berhamburan ke luar pesawat. Entah siapa yang memerintahkan, saat melayang di udara, 400 lebih Baret Hijau menghujani dengan tembakan dan granat iring-iringan pasukan yang sedang bergerak menuju lapangan terbang Dili. Seperti sortie pertama, tembak-menembak kembali terulang. Saling membidik terus berlangsung tanpa kedua pihak menyadari, mereka adalah teman. Di bawah Marinir yang habis memukul mundur Fretilin di sepanjang garis pantai, yang melayang, Kostrad. Untunglah Marinir cepat berinisiatif mengakhiri tembak-menembak (friendly fire), dengan mengibarkan "Merah Putih". Untung lagi, tidak ada korban.

Suakadirul mengetahui kesalahpahaman itu beberapa saat kemudian. Setibanya di Penfui, Rajawali flight mempersiapkan sortie ketiga penerjunan pasukan Kostrad yang masih tersisa ke pinggiran barat Kota Dili. Takut kejadian tragis sortie kedua terulang kembali, Mako Operasi Seroja memutuskan membatalkan sortie ketiga.

Setelah berjuang dari jam 06.00 hingga tengah hari, Dili akhirnya dibebaskan. Fretilin mundur ke perbukitan selatan kota Dili. Pemimpinnya melarikan diri ke Aileu. Lobato dan Ramos Horta hengkang ke Australia. Hanya mantan Tropaz yang berani bertahan. Petangnya, 7 Desember, pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa hari itu, pukul 12.30, Dili telah dibebaskan oleh perlawanan rakyat yang dipelopori Apodeti, UDT, KOTA dan Trabalista dibantu para sukarelawan Indonesia.

Besoknya dalam evaluasi, korban dihitung. 35 orang Baret Hijau yang hampir seluruhnya dari Batalion-502/Raiders, termasuk dua mayor dan dua kapten, tewas. Dari Baret Merah, 16 orang tewas tertembak. Tiga lagi tenggelam di laut. Tiga orang yang semula hilang, mayatnya ditemukan beberapa bulan kemudian. Komandan Tim-B, Lettu Atang Sanjaya, terkena pecahan munisi AK-47-nya yang tertembak. Malang bagi rekannya, Mayor Atang Sutisna, tewas tertembak. "Ditembak sniper," ungkap Hendro. Di pihak Fretilin, korban lebih banyak lagi. Hendro Subroto mencatat dalam tulisannya yang dimuat majalah Airforces, edisi Januari 1999 di bawah judul "Drop Zone Dili", 122 tewas dan 365 orang tertawan. Operasi terus bergulir. Tiga hari kemudian, giliran Baucau dibebaskan.(ben)

TERLALU MEREMEHKAN
"Kita terlalu meremehkan Fretilin, hingga merasa Rajawali flight tidak perlu di-escort," kata Hendro Subroto. Menurut Hendro, memang Fretilin hanya memiliki senapan mesin ringan MG-34 7,92 mm Spandow. Kalau di-escort, tentu akan lain ceritanya. Korban bisa ditekan. Belum lagi keberadaan dua kapal frigat. "Mestinya intelijen beri informasi. Masa Pak Suakadirul terbang di Atauro, tidak tahu ada frigat di bawah," kritik Hendro. Salah tembak antara Marinir dan Kostrad, juga disinyalir Hendro buruknya koordinasi.

Hendro menduga lagi, mungkin perwira operasi menganggap apa yang terjadi di Padang dan Pekanbaru, akan terulang. Waktu itu, begitu pasukan payung diterjunkan, pemberontak PRRI lari terbirit-birit. "Mereka kira Fretilin juga akan lari. Nyatanya, malah nembakki," keluh Hendro. Sedang Belanda waktu "menyikat" Maguwo Desember 1948, menerjunkan dulu puluhan boneka untuk mengetahui posisi kekuatan penangkis serangan udara AURI. P-51 Mustang dan P-40 Kittyhawk-nya pun, men-straffing Maguwo sebelum pasukan payung diterjunkan. Mestinya, banyak yang bisa dijadikan referensi.(ben)



Cerita ini disadur dari Angkasa Online, semoga bisa memberikan pencerahan kepada pembaca dan generasi mendatang...
Bagaimana Perjuangan ABRI - TNI dari dulu sampai Sekarang......

source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=274970&page=3